Wednesday, 18 February 2015

Monas Pindah ke MA eNHa

Madrasah Aliyah Nurul Huda adalah salah satu madrasah terbaik di Kabupaten OKU Timur. Terbukti dengan diraihnya piala juara umum Bupati Cup tiga kali berturut-turut selama tiga tahun sejak tahun 2010-2013. Bupati Cup merupakan salah satu ajang kejuaran di bidang akademik dan olahraga yang diadakan tiga tahun sekali untuk memperingati hari pendidikan nasional pada setiap tanggal dua mei. Selain itu juga Madrasah Aliyah Nurul Huda di bawah Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda juga sangat menerapkan kedisiplinan kepada para santrinya.
Untuk mendukung penegakan kedisiplinan itu, Madrasah Aliyah Nurul Huda menggunakan  sistim buku poin. Buku poin inmei berisi tentang peraturan-peraturan yang berupa hal-hal yang di larang dilakukan oleh para santri ma nurul huda. Dan juga catatan poin pelanggaran yang dilakukan oleh setiap santri. Misalnya, jika seorang santri terlambat, maka ia diizinkan masuk kelas dengan syarat harus mendapat sanksi sebesar dua poin dan biasanya harus ditebus dengan hafalan surat-surat pendek atau khataman al-Quran atau membersihkan lingkungan Madrasah.
Berbagai peraturan telah ditetapkan di MA Nurul huda. Hal-hal yang bisa dikenakan sanksi diantaranya adalah terlambat datang kesekolah, tidak mengikuti pelajaran dikelas, tidak masuk sekolah tanpa izin, merokok, berpacaran dan lain-lain. Tapi walaupun dilarang, para santripun banyak yang melanggarnya. Mereka beranggapan bahwa peraturan ada untuk dilanggar. Salah satu yang sering dilanggar adalah berpacaran. Untuk kalangan santri madrasah aliyah hal ini sudah biasa. Para ustadz pun mengetahuinya. Tak jarang pula para ustadz mengadakan razia untuk mengetahui santri-santri yang berpacaran. Biasanya berkordinasi dengan ketua asrama pondok pesantren putra dan putri.  Data yang didapatkan dari pondok pesantren itulah kemudian ditindak lanjuti oleh pihak madrasah. Jadi bagi santri madrasah aliyah yang berdomisili di pondok pesantren maka dia akan mendapatkan sanksi double yaitu sanksi di asrama pondok dan juga sanksi dari pihak madrasah.
Berbicara tentang pacaran saya jadi ingat ketika saya duduk dikelas dua Madrasah Aliyah Nurul Huda. Saat itu saya dan teman-teman Ikatan Santri (IKSAN) Madrasah Aliyah Nurul Huda mengadakan sebuah acara fashion show dan juga lomba memasak nasi goreng dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April 2012. Saat itu saya menjadi sekretaris pada acara itu dan teman saya yang bernama Nurul Muharrika menjadi ketua panitianya. Sekitar pukul 08.00 acara fashion show dimulai. Acara ini dilakukan di lapangan madrasah aliyah nurul huda. Sedangkan acara lomba memasak digelar di kelas-kelas. Setiap kelas wajib mempersentasikan hasil masakannya yaitu berupa masakan nasi goreng. Salah satu menu favorit orang Indonesia terutama untuk sarapan pagi. Sekitar pukul 11.00 WIB acara sudah mulai selesai. Madrasah sudah mulai sepi. Sebagian besar santri sudah menuju tempat tinggalnya masing-masing.
Saya masih ingat betul ketika sehabis acara dan saya berda di kantor IKSAN yang berada di depan mushola samping ruang guru tiba-tiba saya mendengar suara ustadz, beliau berkata “Itu panitianya mana, kursi dilapangan belum dikembalikan ke kelas”. Saya yang mendengar itu bersama Muharrika langsung keluar dan membereskan kursi yang berserakan dilapangan dan diangkat menuju ruang kelas di lantai dua. Karena kami mengambilnya dari lantai dua maka kami harus mengembalikannya ke lantai dua juga. “Rika kemana sih panitia yang cowok, kog pada nggak ada?” tanyaku pada Muharrika. “Nggak tahu Nay, kayaknya lagi pada monas deh”, jawab Muharrika. “Ha? Monas? Apa itu Ka?” tanyaku. Mojok Nasional”, jawab muharrika singkat. “Hahahaha.. kamu ada da aja sih Ka”. Aku menimpali jawaban muharrika sambil tertawa. Tapi memang benar ketika kami naik ke lantai dua ada beberapa santri yang sedang monas (mojok nasional) bersama kekasih tercinta.

Ya, memang begitulah walaupun sudah diberikan peraturan tentang dilarangnya berpacaran tetapi masih banyak juga yang melanggar. Ya maklumlah namanya juga remaja. Mulai tahun ajaran baru tahun 2013/2014 Madrasah aliyah Nurul Huda memasang cctv disetiap sudut ruang kelas, pemasangan ini bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik para santri didalam kelas. Sehingga lebih efektif pengawasannya dari ruang kepala sekolah dan ruang TU. Tentu saja adanya cctv ini sangat membantu para ustadz dan juga membantu perkembangan prestasi santri. Karena para santri menjadi tenang tidak sering ribut dikelas. Dan lebih sering belajar dikelas ketika kelas kosong jika tidak ada guru. Karena jika mereka ribut saat kelas kosong langsung ketahuan oleh guru piket yang bertugas mengawasi diruang cctv dan langsung dipanggil ke kantor. Kan jadi serem. Hehehe 


0 comments:

Post a Comment