Madrasah Aliyah Nurul Huda adalah
salah satu madrasah terbaik di Kabupaten OKU Timur. Terbukti dengan diraihnya
piala juara umum Bupati Cup tiga kali berturut-turut selama tiga tahun sejak
tahun 2010-2013. Bupati Cup merupakan salah satu ajang kejuaran di bidang
akademik dan olahraga yang diadakan tiga tahun sekali untuk memperingati hari
pendidikan nasional pada setiap tanggal dua mei. Selain itu juga Madrasah
Aliyah Nurul Huda di bawah Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda juga sangat
menerapkan kedisiplinan kepada para santrinya.
Untuk mendukung penegakan
kedisiplinan itu, Madrasah Aliyah Nurul Huda menggunakan sistim buku poin. Buku poin inmei berisi
tentang peraturan-peraturan yang berupa hal-hal yang di larang dilakukan oleh
para santri ma nurul huda. Dan juga catatan poin pelanggaran yang dilakukan
oleh setiap santri. Misalnya, jika seorang santri terlambat, maka ia diizinkan
masuk kelas dengan syarat harus mendapat sanksi sebesar dua poin dan biasanya
harus ditebus dengan hafalan surat-surat pendek atau khataman al-Quran atau
membersihkan lingkungan Madrasah.
Berbagai peraturan telah
ditetapkan di MA Nurul huda. Hal-hal yang bisa dikenakan sanksi diantaranya
adalah terlambat datang kesekolah, tidak mengikuti pelajaran dikelas, tidak
masuk sekolah tanpa izin, merokok, berpacaran dan lain-lain. Tapi walaupun
dilarang, para santripun banyak yang melanggarnya. Mereka beranggapan bahwa
peraturan ada untuk dilanggar. Salah satu yang sering dilanggar adalah
berpacaran. Untuk kalangan santri madrasah aliyah hal ini sudah biasa. Para
ustadz pun mengetahuinya. Tak jarang pula para ustadz mengadakan razia untuk
mengetahui santri-santri yang berpacaran. Biasanya berkordinasi dengan ketua asrama
pondok pesantren putra dan putri. Data
yang didapatkan dari pondok pesantren itulah kemudian ditindak lanjuti oleh
pihak madrasah. Jadi bagi santri madrasah aliyah yang berdomisili di pondok
pesantren maka dia akan mendapatkan sanksi double yaitu sanksi di asrama pondok
dan juga sanksi dari pihak madrasah.
Berbicara tentang pacaran saya
jadi ingat ketika saya duduk dikelas dua Madrasah Aliyah Nurul Huda. Saat itu
saya dan teman-teman Ikatan Santri (IKSAN) Madrasah Aliyah Nurul Huda
mengadakan sebuah acara fashion show dan juga lomba memasak nasi goreng dalam
rangka memperingati Hari Kartini 21 April 2012. Saat itu saya menjadi
sekretaris pada acara itu dan teman saya yang bernama Nurul Muharrika menjadi
ketua panitianya. Sekitar pukul 08.00 acara fashion show dimulai. Acara ini
dilakukan di lapangan madrasah aliyah nurul huda. Sedangkan acara lomba memasak
digelar di kelas-kelas. Setiap kelas wajib mempersentasikan hasil masakannya
yaitu berupa masakan nasi goreng. Salah satu menu favorit orang Indonesia
terutama untuk sarapan pagi. Sekitar pukul 11.00 WIB acara sudah mulai selesai.
Madrasah sudah mulai sepi. Sebagian besar santri sudah menuju tempat tinggalnya
masing-masing.
Saya masih ingat betul ketika
sehabis acara dan saya berda di kantor IKSAN yang berada di depan mushola
samping ruang guru tiba-tiba saya mendengar suara ustadz, beliau berkata “Itu
panitianya mana, kursi dilapangan belum dikembalikan ke kelas”. Saya yang
mendengar itu bersama Muharrika langsung keluar dan membereskan kursi yang
berserakan dilapangan dan diangkat menuju ruang kelas di lantai dua. Karena
kami mengambilnya dari lantai dua maka kami harus mengembalikannya ke lantai
dua juga. “Rika kemana sih panitia yang cowok, kog pada nggak ada?” tanyaku
pada Muharrika. “Nggak tahu Nay, kayaknya lagi pada monas deh”, jawab
Muharrika. “Ha? Monas? Apa itu Ka?” tanyaku. Mojok Nasional”, jawab muharrika
singkat. “Hahahaha.. kamu ada da aja sih Ka”. Aku menimpali jawaban muharrika
sambil tertawa. Tapi memang benar ketika kami naik ke lantai dua ada beberapa
santri yang sedang monas (mojok nasional) bersama kekasih tercinta.
Ya, memang begitulah walaupun
sudah diberikan peraturan tentang dilarangnya berpacaran tetapi masih banyak
juga yang melanggar. Ya maklumlah namanya juga remaja. Mulai tahun ajaran baru
tahun 2013/2014 Madrasah aliyah Nurul Huda memasang cctv disetiap sudut ruang
kelas, pemasangan ini bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik para santri didalam
kelas. Sehingga lebih efektif pengawasannya dari ruang kepala sekolah dan ruang
TU. Tentu saja adanya cctv ini sangat membantu para ustadz dan juga membantu
perkembangan prestasi santri. Karena para santri menjadi tenang tidak sering
ribut dikelas. Dan lebih sering belajar dikelas ketika kelas kosong jika tidak
ada guru. Karena jika mereka ribut saat kelas kosong langsung ketahuan oleh
guru piket yang bertugas mengawasi diruang cctv dan langsung dipanggil ke
kantor. Kan jadi serem. Hehehe
Penulis: Maftakhatul Inayah






0 comments:
Post a Comment