Wednesday, 22 April 2015

Pedoman Transileterasi Latin-Arab dalam Penulisan Nama Tokoh, Daerah, dan Negara



Dalam pengalihan sebuah tulisan Arab-Indonesia atau Indonesia-Arab, kita memerlukan suatu kaidah yang benar. Karena jika kita salah mengalihkan sebuah tulisan maka akan salah pula arti dan maknanya. Pedoman penulisan Arab-Indonesia atau Indonesia Arab khususnya nama-nama tokoh nasional maupun internasional jika kita mau menulis untuk disimpan sendiri dan tidak untuk khalayak umum maka kita bisa menggunakan kaidah-kaidah yang sekedar kita saja yang tahu. tetapi jika sebuah tulisan itu akan kitapublikasikan dan untuk konsumsi khalayak umum maka kita harus mengikuti kaidah penulisan transileterasi yang baik dan benar dan sesuai dengan standar penulisan nama yang digunakan oleh bangsa Arab.
Setelah membaca dan mencari-cari di mesin telusur google dengan menggunakan beberapa situs berbahasa Arab, saya menemukan banyak perbedaan antara transileterasi Indonesia-Arab atau Arab-Indonesia. Pedoman itu ternyata berbeda dengan pedoman Arab Pegon yang sudah sangat terkenal dan berkembang pesat dikalangan para santri.
Misalnya :
Pegon Arab
Penulisan Arab Sesuai Standard orang Arab
Arti Bahasa Indonesia
Analisis Perbedaan
فا تيمورا
با تيمورا
Pattimura
Umumnya pada pegon Arab huruf ‘P’ ketika menerjemahkan dari Indonesia ke Arab maka selalu ditulis dengan huruf ‘ف’ sesuai dengan kaidah orang Arab penggunaan huruf P dalam transileterasi Arab-Indonesia ada kalanya menggunakan huruf ‘ف’ ada kalanya juga menggunakan  huruf ‘ب’.
أليزابيت
أليزابيث
Elizabeth
Jika kita menggunakan huruf pegon maka terjemah yang kita hasilkan adalah penulisan akhirnya menggunakan huruf ‘ت’ berbeda dengan standar orang Arab yang menggunakan huruf ‘ث’.

Berikut adalah pedoman singkat yang saya temukan ketika mengalihkan teks Indonesia-Arab
1.      Selalu menampakkan huruf vocal
Contoh : Susilo = سوسيلو
Huruf vocal ‘u’ dan ‘o’ ditampakkan dengan menggunakan huruf ‘و’ dan huruf ‘i’ ditampakkan dengan huruf ‘ي dan vokal ‘a’ ditampakkan dengan ‘ا’.
2.      Penulisan dua huruf konsonan, hanya ditulis dengan satu huruf konsonan saja.
Contoh : Hillary Clinton = هيلاري كلينتون
Dalam penulisan nama di atas, huruf konsonan yang doble ‘ll’ hanya ditulis dengan satu huruf yaitu ‘لsedangkan ‘ا’ menunjukkan bahwa setelahnya adalah huruf ‘a’ seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya huruf konsonan selalu ditampakkan.
3.      Penulisan nama latin ke Arab sesuai dengan cara bacanya, bukan sesuai dengan penulisan dalam huruf latinnya.
Contoh : Jusuf Kalla = يوسف كالا
Dalam penulisan di atas, Jusuf Kalla tidak ditulis جوسف كالا  karena dalam membacanya Yusuf bukan Jusuf
4.      Penulisan (NG) dan (NY)
Dalam penulisan (ng) di bahasa Arab, ada dua kaidah yang pertama menggunakan (نج) dan (نغ) sedangkan penulisan (ny) menggunakan (نيا).
Contoh: Bambang = بامبانج / بامبانغ
              Benyamin = بينيامين
5.      Penulisan huruf hamzah di awal kata (ء/أ). Karena sering kali kita menulis hanya alif (ا) saja di awal kalimat. Padahal kita tahu bahwa alif itu tidak bias menerima harokat.
Contoh : Elizabeth = أليزابيث  bukan اليزابيت karena jika kita tidak menuliskan hamzah di
              awal kalimat tersebut maka ejaannya menjadi ‘Lizabeth’ bukan ‘Elizabeth’.
6.      Penulisan huruf (th) tidak menggunakan ت  tetapi ث.
Contoh: Elizabeth = أليزابيث  bukan   أليزابيت.
7.      Penulisan huruf ‘c’ dalam bahasa Arab menggunakan huruf ج, س, atau ش.
Contoh : Cimahi                      : سيماهي
              Aceh                          : آشية/آتشية
              Prancis                       : فارانسا
               Ceko                         : تشكي
              Citra Kirana              :  جترا كيرانا
8.      Penulisan huruf ‘k’  menggunakan  ك’ atau ‘ق
Contoh : Korea           : كوريا
               Kairo            : قاهراه
9.      Penulisan nama harus memperhatikan dari bahasa mana nama tersebut, berasal dari bahasa Arab atau Indonesia atau bahasa lainnya. Karena jika nama tersebut menggunakan bahasa Arab kemudian kita ubah ke bentuk Arab dengan bahasa Indonesia maka akan terjadi kesalahaan arti atau makna.
Contoh            : Selamet tidak bisa kita tulis ke bahasa Arab سيلامت karena pada dasarnya kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya keselamatan. Maka harus kita tulis سلامة
Ada lagi hal yang unik yang berlaku di masyarakat khususnya masyarakat Jawa. Ketika memberi nama seorang anak dalam bahasa Arab, maka orang Jawa khusunya umat Islam akan memberi nama anaknya menggunakan bahasa Arab. Misalnya : Ahmad Hasan. Tetapi, mereka (orang Jawa Islam) khususnya di daerah saya, tidak akan menggunakan huruf ‘h’ dalam penyebutan nama sehari-hari. Mereka akan memanggil anak tersebut dengan panggilan ‘Kasan’. Bagi orang yang baru mendengar, mungkin terlihat asing. Dan sangat mungkin terjadi dalam penulisan namanya akan menjadi Ahmad Kasan akan ditulis dalam bahasa Arab أحمد كسن padahal yang dimaksud di sini adalah حسن  yang berarti baik bukan كسن yang tidak ada artinya dalam bahasa Arab.
Dalam penulisan nama tokoh, tempat, atau negara, kita tidak boleh egois menggunakan huruf pegon yang kita punya. Karena jika kita menggunakan huruf pegon yang berkembang di Indonesia, maka ketika tulisan kita dibaca oleh khalayak ramai, maka akan menimbulkan kesalahan arti. Karena dalam bahasa Arab, nama-nama tempat, daerah, tokoh, dan negara sudah mempunyai standar sendiri dalam bahasa Arab.
Timbul pertanyaan bagaimana kita membedakan pembacaan huruf ‘o’ dan ‘u’ yang sama-sama ditulis dengan menggunakan satu huruf saja dalam bahasa Arab yaitu huruf ‘و’. Di sini saya berargumen bahwa untuk membedakan keduanya itu kita bisa menggunakan filling atau perasaan kita dengan mengira-ngira tulisan itu lebih enak kita baca ‘o’ atau ‘u’. Misalnya: Joko Widodo = جوكو ويدودو bagi kita yang sudah mengetahui kaidah penulisan bahasa Arab, tidak mungkin rasanya kita akan membacanya menjadi Juku Widudu. Karena nama itu sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Dalam transileterasi Latin-Arab, ada satu huruf yang mempunyai banyak versi penulisan hurufnya dalam bahasa Arab, misalnya ‘c’ menjadi ‘ج’, ‘س’, atau ‘ش’. Itu semua bergantung pada aspirat atau bunyi bahasa. Yang Insya Allah akan dijelaskan di lain kesempatan. 
Sumber : 
Hidayatullah, Moch. Syarif. 2014. Seluk Beluk Penerjemahan Arab-Indonesia.  Tangerang  : Alkitabah. 
www.aljazeera.net

3 comments:

  1. Jadi kalau huruf vokal e menggunakan alif ya bos?

    ReplyDelete
  2. اءيقندي
    maaf ea klo salah. msih blajar nih

    ReplyDelete