Tuesday, 5 May 2015

AWAN DI UJUNG MASA



Andai kudapat menggenggam pasir tanpa harus menjatuhkannya. Maka itulah yang ingin ku lakukan pada semua orang yang pernah sekedar  menolehkan pandangannya padaku..
Pernahkah kau merasa jiwamu melayang?? Meliuk-liuk di temani hembusan angin dunia,, seraya di iringi deru bumi yang menjadi instrument. Maka saat itu kau merasa jiwamu terbebas, berbaur bersama alunan melayu dunia, tak pernah merasa sedih, tak juga merasa kecewa, tanpa juga takut menjadi tua.
Walau sebuah akhir hanyalah awal dari kisah yang baru, namun biarkanlah kebersamaan kita menjadi satu dari ribuan ukiran kenangan di hatimu, bukan menjadi sebuah beban, melainkan menjadi sebuah kekuatan bagimu demi meraih hari esok..
Terdengarkah olehmu, bisikan pasir di padang gurun??, yang begitu bahagia ketika pengelana menapaki dan hanya melewati mereka..!!
Maka bilamana tangan tuhan masih mengizinkanku bersimpuh di hadapannya. Maka ku ingin tuhan menuntunku agar dapat menjadi seperti mereka yang menjadikan kebersamaan yang hanya sesaat menjadi hal yang sangat berharga..
Waktu kini berjalan begitu cepat, tanpa menghiraukan hati anak-anak manusia yang pergi mengiringinya dengan rasa sedih dan perih, dengan rasa cinta yang mulai terkikis, dengan rasa rindu yang mulai habis, dengan kesetiaan yang menipis, namun ini adalah jalan yang harus mereka tempuh, yakni sebuah kenyataan yang lebih agung daripada sebuah ilusi atau khayalan seperti yang mereka inginkan.
Hingga nafasku mulai sesak, hingga pandanganku mulai buram, saat kasih sayang hanya menjadi bualan, dan kata sahabat hanya menjadi omong kosong aku tetap dan akan selalu mengingatmu, hingga ahirnya tangan-tangan kosong menjemput jiwa ini yang penuh dengan dosa.
Oleh    : Muhammad Saiful Anwar

0 comments:

Post a Comment