Bismillah ngawiti ngaji.
Di era modernitas seperti ini,
hendaklah budaya tradisional sudah mulai hilang, namun sebagai warga berprinsip
mempertahankan yang jadul yang baik dan mengambil yang modern yang lebih baik.
Hal seperti pasti kelak kita temui saat kita turun di masyarakat sebagai dokter
keluarga (family doctor) sebagai pelayanan primer. Fenomena-fenomena
awam seperti, pasien datang dengan kesurupan, kerusukan leuluhr, terkena santet,
penyalahgunaan jimat dan lain-lain, tentu akan kita temui di masyarakat
terutama di pedesaan. Oleh karena itu, ngaji Thib Nabawi mungkin bisa
membantu menyelesaikan masalah di masyarakat.
Saya menocoba mencantumlan beberapa bab besar di
Kitab Ath Thib Nabawi (Kedokteran ala Nabi), Karangan Syekh Muhammad bin
Abi Bakr bin Ayyub bin Sa'd al-Zar'i bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi (Ibn Qayyim Al-Jauziyah). Di era ini, saya mencoba membawa
nya dengan istilah-istilah kedokteran. Di
dalam kitab ini saya mencakup judul tentang perawatan penyakit fisik (desease
Care and teatment), hijamah (bekam), sifat dan perbuatan nabi (sebagai
edukasi dan pola hidup sehat), pengobatan penyakit hati (Psikis – Agama ) dan
pengobatan penyakit akibat gangguan sihir dan jin (sebagai Muallij).
Maka dokter haruslah sejalan dengan kemampuan mengobati
penyakit fisik (Dzhohir), sedangkan istilah Muallij haruslah
sejalan dengan kemampuan kita merawat sihir dan gangguan jin (ghoib).
1. Seorang dokter tidak semestinya
seorang Muallij tetapi dokter bisa juga menyembuhkan sihir. Dokter memiliki
resep tips bahan kedokteran berdasarkan bukti dan penelitian (eviden base
medicine) dan menggabungkan zikir dan doa (kekuatan iman).
2. Wong pinter tidak semestinya seorang dokter
dan ia mengkhususkan dirinya dengan perawat sihir dan gangguan jin. Wong pinter
hanya menggunakan ayat quran dan doa untuk kesembuhan.
3. Jika seorang itu bisa mengobati
keduanya tadi, maka ia harus menyatakan dirinya dengan satu nama julukan yang
merujuk kepada kemampuan dan keahliannya. Jika ia lebih pakar hal sihir, maka
ia harus menggunakan gelar wong pinter sedangkan jika ia pakar dengan
pengobatan penyakit fisik, ia harus menyatakan dirinya sebagai dokter. Ini
sesuai dengan hadist rasulullah yang hanya menggunakan layanan thobib yang ahli
saja ketika merawat diri dan sahabat akibat cedera perang maupun penyakit.
Pendahuluan
Pembagian Penyakit
Penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit hati dan Penyakit
jasmani
1. penyakit hati (Dijelaskan lebih
rinci dalam Kitab Ad-Daa wa Ad-Dawaa ‘oleh Ibnu Qayyim);
a. Penyakit syubhat disertai
was-was.
Dijelaskan dalam surat An-Nur
ayat: 50:
أفي قلوبهم مرض أم ارتابوا أم
يخافون أن يحيف الله عليهم ورسوله بل أولئك هم الظالمون
“Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit,
atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan
rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang
yang lalim.”
b. Penyakit cinta disertai kesesatan
dijelaskan dalam firman Allah
dalam surat al-Baqarah ayat 10:
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا
ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
2. Penyakit jasmani
Allah berfirman dalam surah
An-Nur ayat 61:
ليس على الأعمى حرج ولا على
الأعرج حرج
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak
(pula) bagi orang sakit .”
Allah menyebut tentang penyakit
jasmani dalam ibadah haji, puasa, wudhu dan lain-lain lagi. Karena itu Allah
dan rasulNya telah menetapkan perlunya:
· Menjaga kesehatan
· Menjaga tubuh dari unsur bahaya (racun, basi, tajam, bisa,
binatang buas, dll)
· Mengeluarkan zat bahaya dalam tubuh (darah, kencing, kentut,
muntah, bersih, lapar, mengantuk, haus, dll).
· Berpuasa
Tatalaksan Penyakit Jasmani (fungsi
tubuh) – promotive, preventive, kurative, dan rehabilitative
1. Peranan empat unsur di dalam
tubuh manusia yaitu tanah, api, air dan angin. Kompilasinya adalah panas,
dingin, lembab dan kering. Kemudian di ikuti panas dan lembap, panas dan
kering, dingin dan lembab, dingin dan kering. Maka medis harus memiliki kaitan
antaranya.
2. Cara merawatnya;
· Seperti yang diilhamkan (sunnatullah dan fitrah) seperti
bila lapar, maka harus makan, bila haus harus minum, bila letih harus
istirahat, bila mengantuk harus tidur.
· Membutuhkan analisa dan diagnosa seperti tubuh tak stabil, suhu
badan naik, sakit di bagian tubuh dan sebagainya. Oleh karena itu dibagi lagi
menjadi dua jenis:
o Penyakit fisik, yaitu penyakit
alami seperti flu, demam, kanker, jantung dan lain-lain
o Penyakit konduktif (menular),
yaitu penyakit infeksi atau penyakit wabah.
Cara
Rasulullah Mengobati Diri Sendiri
· Beliau tidak menggunakan obat kimia seperti yang dipelopori
bangsa romawi dan yunani yang mana medis itu juga telah diaplikasikan oleh Ibnu
Sina dalam bukunya
· Bahaya obat kimia adalah
ketagihan atau sebagai komplikasi kerusakan badan. Jika sembuh terlalu cepat,
berarti dosa kifarah hanya dapat terhapus sedikit atau belum sempat terhapus.
Ini mengurangi dekatnya diri kita pada Allah.
· Rasulullah hanya memilih makanan khasiat tinggi di Tanah Hijaz
berdasarkan wahyu dan ucapan Jibril terus kepadanya. Orang bukan islam
menafsirkan itu ilmu kedokteran fitrah, sebagaimana hewan mengobati dirinya
misalnya kucing akan menjilat minyak pelita (zaitun) ketika ia terkena racun.
· Pengobatan Rasulullah bisa dianggap rekonstruksi sel tubuh
dengan bersandar dan bertawakal kepada Allah melalui zikir, doa, membaca
al-quran, shalat, berpuasa, bertobat, berbuat baik sesama manusia, membantu
sesama manusia dan sedekah. Ternyata ia juga memberi ‘penyembuhan’ terhadap
rohani lalu menguatkan pula badan sipasien tadi.
Setiap Penyakit Ada Obatnya
Ada banyak hadist tentang
antaranya:
“Berobatlah wahai hamba-hamba
Allah SWT, sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan
obat baginya … diketahui oleh yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh yang
tidak mengetahuinya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)
“Setiap penyakit ada obatnya,
apabila obat tepat mengenai penyakit, maka akan ada kesembuhan dengan izin
Allah SWT.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah SWT telah
menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kamu, tetapi jangan
berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Daud)
“Dari Abu Hurairah ra berkata,
Rasullah SAW telah bersabda: ‘Pada al-Habbah al-Sawda’ ada obat untuk segala
penyakit, kecuali as-sam.” (Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim,
Bukhari dan Ibnu Majah. Dan hadis ini tercantum dalam himpunan hadist-hadist
sahih nomor 857.)
Juga beberapa firman Allah
termasuk:
ياأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في
الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)”
فاستجبنا له فكشفنا ما به من ضر وءاتيناه أهله ومثلهم معهم رحمة من
عندنا وذكرى للعابدين
“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit
yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi
peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 84)”
وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا
خسارا
“Dan Kami turunkan dari Al Qur `an suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur` an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang lalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)”
Wallahu alam bissawab.
Referensi kitab Thibbun Nabawi (Ibnu Qayyim al-Jauziah),







0 comments:
Post a Comment