Wednesday, 6 May 2015

Dokter: Tenaga kesehatan sekaligus ‘wong pinter’


Bismillah ngawiti ngaji.
            Di era modernitas seperti ini, hendaklah budaya tradisional sudah mulai hilang, namun sebagai warga berprinsip mempertahankan yang jadul yang baik dan mengambil yang modern yang lebih baik. Hal seperti pasti kelak kita temui saat kita turun di masyarakat sebagai dokter keluarga (family doctor) sebagai pelayanan primer. Fenomena-fenomena awam seperti, pasien datang dengan kesurupan, kerusukan leuluhr, terkena santet, penyalahgunaan jimat dan lain-lain, tentu akan kita temui di masyarakat terutama di pedesaan. Oleh karena itu, ngaji Thib Nabawi mungkin bisa membantu menyelesaikan masalah di masyarakat.
Saya menocoba mencantumlan beberapa bab besar di Kitab Ath Thib Nabawi (Kedokteran ala Nabi), Karangan Syekh Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa'd al-Zar'i bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi (Ibn Qayyim Al-Jauziyah). Di era ini, saya mencoba membawa nya dengan istilah-istilah kedokteran.  Di dalam kitab ini saya mencakup judul tentang perawatan penyakit fisik (desease Care and teatment), hijamah (bekam), sifat dan perbuatan nabi (sebagai edukasi dan pola hidup sehat), pengobatan penyakit hati (Psikis – Agama ) dan pengobatan penyakit akibat gangguan sihir dan jin (sebagai Muallij). 

Maka dokter haruslah sejalan dengan kemampuan mengobati penyakit fisik (Dzhohir), sedangkan istilah Muallij haruslah sejalan dengan kemampuan kita merawat sihir dan gangguan jin (ghoib).
1. Seorang dokter tidak semestinya seorang Muallij tetapi dokter bisa juga menyembuhkan sihir. Dokter memiliki resep tips bahan kedokteran berdasarkan bukti dan penelitian (eviden base medicine) dan menggabungkan zikir dan doa (kekuatan iman).
2. Wong pinter tidak semestinya seorang dokter dan ia mengkhususkan dirinya dengan perawat sihir dan gangguan jin. Wong pinter hanya menggunakan ayat quran dan doa untuk kesembuhan.
3. Jika seorang itu bisa mengobati keduanya tadi, maka ia harus menyatakan dirinya dengan satu nama julukan yang merujuk kepada kemampuan dan keahliannya. Jika ia lebih pakar hal sihir, maka ia harus menggunakan gelar wong pinter sedangkan jika ia pakar dengan pengobatan penyakit fisik, ia harus menyatakan dirinya sebagai dokter. Ini sesuai dengan hadist rasulullah yang hanya menggunakan layanan thobib yang ahli saja ketika merawat diri dan sahabat akibat cedera perang maupun penyakit.
ilustrasi: dokter dan kiyai saat menolong orang kesurupan 
Pendahuluan

Pembagian Penyakit
Penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit hati dan Penyakit jasmani
1. penyakit hati (Dijelaskan lebih rinci dalam Kitab Ad-Daa wa Ad-Dawaa ‘oleh Ibnu Qayyim);
a. Penyakit syubhat disertai was-was.
Dijelaskan dalam surat An-Nur ayat: 50:
أفي قلوبهم مرض أم ارتابوا أم يخافون أن يحيف الله عليهم ورسوله بل أولئك هم الظالمون
Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang lalim.”
b. Penyakit cinta disertai kesesatan
dijelaskan dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 10:
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

2.  Penyakit jasmani
Allah berfirman dalam surah An-Nur ayat 61:
ليس على الأعمى حرج ولا على الأعرج حرج
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit .”
Allah menyebut tentang penyakit jasmani dalam ibadah haji, puasa, wudhu dan lain-lain lagi. Karena itu Allah dan rasulNya telah menetapkan perlunya:
·   Menjaga kesehatan
·   Menjaga tubuh dari unsur bahaya (racun, basi, tajam, bisa, binatang buas, dll)
·   Mengeluarkan zat bahaya dalam tubuh (darah, kencing, kentut, muntah, bersih, lapar, mengantuk, haus, dll).
·   Berpuasa

Tatalaksan Penyakit Jasmani (fungsi tubuh) – promotive, preventive, kurative, dan rehabilitative
1. Peranan empat unsur di dalam tubuh manusia yaitu tanah, api, air dan angin. Kompilasinya adalah panas, dingin, lembab dan kering. Kemudian di ikuti panas dan lembap, panas dan kering, dingin dan lembab, dingin dan kering. Maka medis harus memiliki kaitan antaranya.
2.  Cara merawatnya;
·  Seperti yang diilhamkan (sunnatullah dan fitrah) seperti bila lapar, maka harus makan, bila haus harus minum, bila letih harus istirahat, bila mengantuk harus tidur.
·  Membutuhkan analisa dan diagnosa seperti tubuh tak stabil, suhu badan naik, sakit di bagian tubuh dan sebagainya. Oleh karena itu dibagi lagi menjadi dua jenis:
o Penyakit fisik, yaitu penyakit alami seperti flu, demam, kanker, jantung dan lain-lain
o Penyakit konduktif (menular), yaitu penyakit infeksi atau penyakit wabah.

Cara Rasulullah Mengobati Diri Sendiri
· Beliau tidak menggunakan obat kimia seperti yang dipelopori bangsa romawi dan yunani yang mana medis itu juga telah diaplikasikan oleh Ibnu Sina dalam bukunya
·  Bahaya obat kimia  adalah ketagihan atau sebagai komplikasi kerusakan badan. Jika sembuh terlalu cepat, berarti dosa kifarah hanya dapat terhapus sedikit atau belum sempat terhapus. Ini mengurangi dekatnya diri kita pada Allah.
· Rasulullah hanya memilih makanan khasiat tinggi di Tanah Hijaz berdasarkan wahyu dan ucapan Jibril terus kepadanya. Orang bukan islam menafsirkan itu ilmu kedokteran fitrah, sebagaimana hewan mengobati dirinya misalnya kucing akan menjilat minyak pelita (zaitun) ketika ia terkena racun.
· Pengobatan Rasulullah bisa dianggap rekonstruksi sel tubuh dengan bersandar dan bertawakal kepada Allah melalui zikir, doa, membaca al-quran, shalat, berpuasa, bertobat, berbuat baik sesama manusia, membantu sesama manusia dan sedekah. Ternyata ia juga memberi ‘penyembuhan’ terhadap rohani lalu menguatkan pula badan sipasien tadi.

Setiap Penyakit Ada Obatnya
      Ada banyak hadist tentang antaranya:
“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah SWT, sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan obat baginya … diketahui oleh yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh yang tidak mengetahuinya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)
“Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat tepat mengenai penyakit, maka akan ada kesembuhan dengan izin Allah SWT.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kamu, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Daud)
“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasullah SAW telah bersabda: ‘Pada al-Habbah al-Sawda’ ada obat untuk segala penyakit, kecuali as-sam.” (Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Bukhari dan Ibnu Majah. Dan hadis ini tercantum dalam himpunan hadist-hadist sahih nomor 857.)
Juga beberapa firman Allah termasuk:
ياأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)”
فاستجبنا له فكشفنا ما به من ضر وءاتيناه أهله ومثلهم معهم رحمة من عندنا وذكرى للعابدين
“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 84)”
وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا خسارا
“Dan Kami turunkan dari Al Qur `an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur` an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)”

Wallahu alam bissawab.
Referensi kitab Thibbun Nabawi (Ibnu Qayyim al-Jauziah),

0 comments:

Post a Comment