Pagi itu,
sebut saja Iyah sudah sibuk dengan seragam lengkap untk pergi ke kebun. Ia
membawa tas yang dia rancang sendiri di mana bahan dasarnya berasal dari karung
tepung terigu. Tas sederhana berwarna putih tulang hampir kuning
kecoklat-coklatan karena termakan usia itu berisi air minum, ubi goreng dan
nasi serta lauk-pauk untuk makan siang. Agendanya di kebun hari ini adalah
menyiangi rumput yang berada di sekitar ubi kayu yang ditanam sekitar satu
minggu yang lalu itu. Hari ini ia bekerja sendirian, karena suaminya sedang
mendapat pekerjaan sebagai tukang bangunan di desa sebelah.
Perjalanan
dari rumah menuju kebun tidak begitu jauh, hanya sekitar sepuluh menit dengan
berjalan kaki. Iyah memulai pekerjaannya dengan penuh semangat. Dua jam
berlalu, ia mulai merasa letih dan haus menghampiri tubuhnya. Sambil mengusap
keringat yang bercucuran di wajah ia berjalan ke tempat ia biasa berteduh.
Yaitu di bawah pohon rambutan yang cukup rindang yang berada di tengah kebun
yang kira-kira seperempat hektar. Kebetulan pada waktu itu musim rambutan.
Karena di dera rasa haus yang begitu mengganggu kerongkongan tanpa pikir
panjang ia langsung meraih rambutan yang berada di atas pohon. Ia tidak ingat
bahwa tepat di samping ranting rambutan yang ia raih itu ada sarang lebahnya.
Sontak saja
lebah yang merasa terganggu itu langsung menyerangnya secara berjamaah. Ia
kaget dan langsung terduduk. Di saat yang genting seperti itu, Iyah bukannya
berlari namun ia hanya pasrah sambil membaca ayat kursi yang tidak begitu fasih
ia ucapkan dengan keras. Komplotan lebah itupun tidak pergi malah mereka
bertambah ganas menyerang Iyah. Mungkin saja ia berfikir dengan membaca ayat
kursi lebah itu tidak jadi menyerangnya karena Iyah pernah mendengar ketika ia
sedang pengajian majlis ta’limnya bahwa ayat kursi itu bisa menolak balak.
Sudah hampir
lima kali Iyah membaca ayat kursi, tetapi tetap saja diserang oleh komplotan
lebah itu. Akhirnya iya ingat, suaminya pernah mengatakan “Bu, kalau seandainya
kamu diserang lebah yang ada di atas pohon rambutan ini, kamu langsung jebur
aja ke kolam ikan itu (sambil menunjuk ke arah kolam ikan yang kira-kira
jaraknya 20 meter dari pohon rambutan).”
Tanpa pikir panjang Iyah langsung berlari dan komplotan lebah itu tetap
mengikutinya. Setelah sampai di mulut kolam, Iyah langsung terjun ke dalam
kolam dan melepaskan kerudungnya. Karena kata suaminya lebah itu akan lari jika
mereka melihat ada pakaian yang
mengambang di atas air. Mungkin saja lebah itu mengira musuhnya sudah tenggelam
ke dasar kolam.
Setelah
beberapa detik ia berada di dalam kolam, akhirnya lebah itu kembali ke asalnya.
Untung saja saat ia masuk ke dalam kolam bersamaan dengan datangnya Sucipto
pemilik kolam ikan yang kebetulan masih keponakannya sendiri. Dengan begitu ada
yang menolong Iyah untuk kembali naik ke daratan. Sebenarnya Sucipto ingin
tertawa melihat Iyah, karena Cipto
melihat Iyah yang basah kuyup dan wajahnya di penuhi bentol-bentol merah. Sembari
mengantarkan Iyah pulang dengan mengendarai sepeda motor bututnya Sucipto berkata
“Bude habis di dandanin sama lebah ya? Lumayankan dandan gratis, tanpa bahan
kimia lagi”. Ha... ha.. ha... Sucipto
tertawa lepas sambil mengendalikan kemudi. Dan ketika itu ia mendapat jeweran
yang lumayan kuat dari Budenya itu.
Penulis: Maftakhatul Inayah







0 comments:
Post a Comment