Friday, 6 March 2015

Ayat Kursi-nya Nggak Mempan

Pagi itu, sebut saja Iyah sudah sibuk dengan seragam lengkap untk pergi ke kebun. Ia membawa tas yang dia rancang sendiri di mana bahan dasarnya berasal dari karung tepung terigu. Tas sederhana berwarna putih tulang hampir kuning kecoklat-coklatan karena termakan usia itu berisi air minum, ubi goreng dan nasi serta lauk-pauk untuk makan siang. Agendanya di kebun hari ini adalah menyiangi rumput yang berada di sekitar ubi kayu yang ditanam sekitar satu minggu yang lalu itu. Hari ini ia bekerja sendirian, karena suaminya sedang mendapat pekerjaan sebagai tukang bangunan di desa sebelah.
Perjalanan dari rumah menuju kebun tidak begitu jauh, hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Iyah memulai pekerjaannya dengan penuh semangat. Dua jam berlalu, ia mulai merasa letih dan haus menghampiri tubuhnya. Sambil mengusap keringat yang bercucuran di wajah ia berjalan ke tempat ia biasa berteduh. Yaitu di bawah pohon rambutan yang cukup rindang yang berada di tengah kebun yang kira-kira seperempat hektar. Kebetulan pada waktu itu musim rambutan. Karena di dera rasa haus yang begitu mengganggu kerongkongan tanpa pikir panjang ia langsung meraih rambutan yang berada di atas pohon. Ia tidak ingat bahwa tepat di samping ranting rambutan yang ia raih itu ada sarang lebahnya.
Sontak saja lebah yang merasa terganggu itu langsung menyerangnya secara berjamaah. Ia kaget dan langsung terduduk. Di saat yang genting seperti itu, Iyah bukannya berlari namun ia hanya pasrah sambil membaca ayat kursi yang tidak begitu fasih ia ucapkan dengan keras. Komplotan lebah itupun tidak pergi malah mereka bertambah ganas menyerang Iyah. Mungkin saja ia berfikir dengan membaca ayat kursi lebah itu tidak jadi menyerangnya karena Iyah pernah mendengar ketika ia sedang pengajian majlis ta’limnya bahwa ayat kursi itu bisa menolak balak.
Sudah hampir lima kali Iyah membaca ayat kursi, tetapi tetap saja diserang oleh komplotan lebah itu. Akhirnya iya ingat, suaminya pernah mengatakan “Bu, kalau seandainya kamu diserang lebah yang ada di atas pohon rambutan ini, kamu langsung jebur aja ke kolam ikan itu (sambil menunjuk ke arah kolam ikan yang kira-kira jaraknya  20 meter dari pohon rambutan).” Tanpa pikir panjang Iyah langsung berlari dan komplotan lebah itu tetap mengikutinya. Setelah sampai di mulut kolam, Iyah langsung terjun ke dalam kolam dan melepaskan kerudungnya. Karena kata suaminya lebah itu akan lari jika mereka  melihat ada pakaian yang mengambang di atas air. Mungkin saja lebah itu mengira musuhnya sudah tenggelam ke dasar kolam.
Setelah beberapa detik ia berada di dalam kolam, akhirnya lebah itu kembali ke asalnya. Untung saja saat ia masuk ke dalam kolam bersamaan dengan datangnya Sucipto pemilik kolam ikan yang kebetulan masih keponakannya sendiri. Dengan begitu ada yang menolong Iyah untuk kembali naik ke daratan. Sebenarnya Sucipto ingin tertawa melihat  Iyah, karena Cipto melihat Iyah yang basah kuyup dan wajahnya di penuhi bentol-bentol merah. Sembari mengantarkan Iyah pulang dengan mengendarai sepeda motor bututnya Sucipto berkata “Bude habis di dandanin sama lebah ya? Lumayankan dandan gratis, tanpa bahan kimia lagi”.  Ha... ha.. ha... Sucipto tertawa lepas sambil mengendalikan kemudi. Dan ketika itu ia mendapat jeweran yang lumayan kuat dari Budenya itu.




0 comments:

Post a Comment