“Husna, tolong antar Ibu ke rumah Bibi ya”,
kata Ibu kepadaku sambil memasukkan beberapa buah tangan ke dalam kantung
plastik yang akan dibawa ke rumah bibi. Jarak rumahku dengan bibi tidak terlalu
jauh. Sekitar lima belas menit menggunakan sepeda motor melewati jalan berbatu.
Maklumlah aku dan keluargaku tinggal di desa. Jalan yang tidak nyaman sama
sekali ketika orang berkendara ini tidak pernah ada perubahan. Hanya semakin
jelek saja setiap hari. Pemerintah hanya
mengobral janji palsu. Iming-iming jalan yang beraspal jika mereka terpilih
menjadi wakil rakyat kini hanya menjadi isapan jempol belaka.
Tak sampai lima belas menit aku
dan ibuku sampai di rumah bibiku. Rumah sederhana berwarna abu-abu dengan
kramik warna putih dan plafon yang senada pula mempercantik rumah bibiku. Dia
tinggal bersama suami dan seorang anaknya yang kira-kira berumur satu tahun. Nasib
buruk kini sedang menimpa keluarga bibiku. Pamanku disekap oleh makelar judi.
Nampaknya dua hektar sawah dan lima hektar perkebuanan karet belum cukup untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya. Atau mungkin pamanku merasa tidak ada tempat
untuk menyedekahkan uang yang didapatkannya selama ini. Sehingga ia gunakan
untuk bermain judi.
Sudah ada tiga hari bibiku
diancam oleh makelar itu. Dia mengancam jika bibiku tidak segera melunasi
hutang pamanku yang besarnya mencapai 500 juta rupiah maka pamanku akan
dibunuh.
“Sertifikat
tanah kamu kemana Fit?” tanya ibuku kepada bibi.
“Aku tidak tahu Mbak, sepertinya
sudah digadaikan oleh Mas Taufik”, jawab bibiku dengan nada lemas.
“Masya Allah, apa? Digadaikan?
Dasar orang nggak tahu diri, dulu dia itu sebelum nikah sama kamu dia itu punya
apa?” kata ibuku dengan nada meninggi. Bibiku hanya diam saja.
“Kamu sih dibilangin Taufik itu nggak
baik buat kamu, tapi tetap saja kekeh, pakai acara mengancam segala kalau kamu
nggak nikah sama dia kamu mau bunuh diri. Sekarang sudah terbuktikan?” ungkap
ibuku marah.
“Maafin Fitri Mbak,” kata bibiku
sambil menangis. Aku nggak tahu kalau bakal kayak gini.
“Terus sekarang mau kamu apa? Mau
minta mbakmu ini buat nebus dia? Gitu?” tanya ibuku.
Bibiku hanya menganggukkan
kepala. “Dapat uang darimana Fit, sudah biarkan saja dia dibunuh. Kalau tanah
kamu itu masih utuh silahkan jual saja, tapi inikan semuanya sudah dijual sama
dia”. Tambah ibuku.
Bibiku semakin terisak. Aku hanya
menyaksikan dari balik lemari hias yang dipenuhi dengan foto, bunga hias dan
guci-guci kaca.
“Tolong mbak, Wildan juga
sekarang ada di sana”. Kata bibiku.
“Maksud kamu? Wildan di tempat
para bedebah itu? Siapa yang membawa Wildan ke sana Fit?” tanya ibuku kaget.
“Tadi pagi waktu aku mau mandiin
Wildan, tiba-tiba di tempat tidurnya sudah tidak ada. Dan saat itu juga ada
yang ngirim video lewat WhatsApp, ini videonya Mbak”. Kata bibiku sambil
menunjukkan video.
Video yang berdurasi dua menit
itu menunjukkan bahwa Wildan keponakanku sedang dalam bahaya. Ia di dalam
genggaman para bajingan itu. Yang sewaktu-waktu bisa saja membunuhnya. Suara
tangisnya sangat menyayat hati. Siapa yang memberi dia ASI siapa yang mau
mengganti popoknya, kekhawatiran menyelimuti bibi, ibu tak terkecuali diriku.
“Telfon Ayah!”. Perintah ibu
kepadaku. Aku langsung mengambil handphone disakuku dan langsung menelfon ayah
agar segera ke rumah bibi.
Tak selang beberapa lama, ayah
datang. Ruang keluarga ini sangat sepi. Hanya suara isak tangis yang terdengar.
Aku tidak berani ikut bicara sepatah katapun. Aku hanya terpaku dan terdiam
membisu.
“Kenapa, ada apa?” tanya ayahku
ketika memasuki ruang keluaraga di rumah bibiku. Tidak ada yang menjawab. Masih
tetap sama hanya suara isak tangis yang terdengar. Ayah menghampiriku yang
sedang duduk di ruang yang terpisah dengan ibu dan bibiku.
“Ada apa Husna, tolong ceritakan
semua sama Ayah”, pinta ayahku.
“Paman disekap Ayah, sama makelar
judi. Katanya paman punya hutang 500 juta dan harus segera dilunasi kalau tidak
paman akan dibunuh. Bukan paman saja ayah yang disekap, tapi Wildan, tadi pagi
dia diculik. Dan sekarang disekap juga sama mereka.” Ceritaku kepada ayah.
Ayah mengusap kepalanya. Berfikir
sejenak. Lalu mengambil nafas panjang.
“Kapan waktu terakhir untuk
membebaskan mereka Fit?”tanya ayahku kepada bibi.
“Pukul 00.00 Mas, jawab bibiku.
“Baiklah kamu siap-siap sekarang
kita ke markas mereka”. Kata ayahku dengan nada yang sangat yakin sekali.
Fikiranku saat itu mulai tidak
karuan. Jangan-jangan ayah mau memakai uang yang akan aku pakai untuk
melanjutkan kuliah di kedokteran. Tidak. Pokoknya tidak boleh. Aku tidak mau
ada seorangpun yang boleh menggagalkan rencana studiku.
“Aku ada uang 500 juta,
sebenarnya itu jatah biaya kuliah Husna, tapi karena ada yang harus lebih
diutamakan ya sudah kita pakai saja dulu uangnya Husna”, kata ayahku datar.
Aku yang sedang berdiri di depan
pintu kamar di depan ruang tempat mereka berunding serasa mau pinsan. Kepala
ini rasanya seperti ditindih oleh bebatuan gunung berton-ton. Air mata
tiba-tiba menetes begitu cepat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika aku
tidak mengiyakan pernyataan ayahku maka itu percuma saja. Karena meskipun aku
menolaknya itu tidak akan membuat uang itu kembali lagi kepadaku. Ayahku
mengambil koper, lalu mengajak bibiku keluar menaiki sebuah mobil ayahku.
Mungkin sebelum pergi ke tempat para bedebah itu ayah akan mampir dahulu ke bank
untuk mengambil uang. Aku dan ibuku
ditinggalkan begitu saja oleh mereka dirumah itu.
Aku dan ibuku memutuskan untuk
pulang ke rumah. Menunggu hasil dari usaha ayah dan bibiku. Semoga mereka
berhasil, gumamku dalam hati. Tapi sebenarnya hati ini masih tidak terima jika
uang yang seharusnya aku gunakan untuk masuk kedokteran dirampas begitu saja
dari genggamanku. Ibu hanya diam sejak masuk rumah. Lebih memilih mengurung
diri di kamar. Aku juga demikian. Hanya bisa menangis karena membayangkan aku
bakal gagal meraih impianku menjadi seorang dokter. Cita-citaku sejak madrasah
tsanawiyah. Kini akan lenyap begitu saja sebab perbuatan adik ipar ibuku.
Uang yang kini dipakai untuk
menebus paman dan keponakanku adalah hasil jerih payah ayahku sejak aku masih
duduk di bangku tsanawiyah. Saat itu aku sudah di pesantren. Sejak aku
mengungkapkan keinginanku untuk menjadi seorang dokter maka ayahku mulai
menabung untuk mempersiapkan biayaku. Karena beliau sangat sadar bahwa menjadi
seorang dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hingga selama enam tahun
ayahku bisa mengumpulkan uang sebesar 500 juta rupiah. Uang itu disimpan atas
namaku yaitu Husna Barokatul Aulia. Di simpan di salah satu bank negara di
kotaku.
Dua jam berlalu. Ayahku datang.
Diikuti oleh bibiku yang sedang menggendong Wildan. Wildan tampak pucat.
Mungkin karena seharian menangis. Mukanya yang biasa ceria kelihatan cemberut. Aku
menyambut kedatangan mereka. Tapi yang aku heran mereka datang tanpa Paman
Taufik. Aku tidak berani bertanya. Aku memilih menyiapkan makan malam di dapur.
Karena aku sadar itu urusan para orang tua dan aku tidak berhak ikut campur.
Di dapur aku mendengar percakapan
mereka. Ternyata Paman Taufik sengaja tidak dibawa pulang oleh ayah. Paman ditinggalkan
begitu saja. Ayahku berkata kepada bibiku bahwa suami macam Paman Taufik tidak
pantas lagi menjadi suami dan ayah bagi Wildan. Bibiku menerima keputusan itu.
Karena dia sangat sadar bahwa yang menyebabkan kehancuran keluarga kecilnya
adalah suami tercintanya. Betapa tidak, masih diusia pernikahan yang sangat
muda Paman Taufik sudah berhasil membuat harta benda peninggalan kakekku habis
tanpa sisa. Rumah peninggalan kakekku satu-satunya pun kini telah tersita oleh
rentenir yang uangnya digunakan oleh Paman Taufik untuk berjudi. Dan nampaknya
mulai sore ini bibi dan Wildan akan meramaikan rumah kami.
Aku sudah diterima kuliah di
jurusan kedokteran salah satu universitas negeri di indonesia. Pendaftaran
ulang sudah dimulai sejak satu minggu yang lalu. Ada waktu kira-kira satu minggu
lagi untuk daftar ulang. Rasanya tidak mungkin lagi ayahku mendapatkan uang
sebesar 110 juta rupiah dalam waktu satu minggu. aku yang tadinya berniat
menggoreng daging ayam yang sudah ibu bumbui tadi pagi dan disimpan di dalam
kulkas menurungkan niatku. Aku memilih kembali ke dalam kamar dengan air mata
yang menghiasi kedua pipiku. Sepertinya ayah merasakan kegalauanku. Ayah
menghampiriku di dalam kamar. Dan mengelus dengan halus kepalaku. Sambil
berkata “Maafkan Ayah ya Nak, Ayah belum bisa menepati janji ayah, rencananya
kan besok kita berangkat ke Jakarta buat daftar ulang tapi ternyata Allah
berkehendak lain. Tapi kamu tenang saja, Ayah sudah menghubungi teman Ayah dan
berniat menjual kebun kita seharga 140 juta.”
“Kebun apa Ayah yang mau dijual?”
tanyaku. Kebun karet kita Husna, jawab ayah.
Aku hanya diam, tidak bisa
mengambil keputusan. Aku hanya terus menangis. Aku tidak bisa berfikir jernih.
“Kok sangat murah Ayah? Bukannya
harga satu hektarnya bisa mencapai 100 juta?” tanyaku. “Sekarang harga karet
sudah turun, dan kita butuh uang itu cepat Nak, hanya tiga hari. Jadi ya tidak
mungkin Ayah patok harga yang tinggi. Nanti kamu keburu nggak bisa kuliah kan
nak?” jawab Ayah.
“Apa nggak terlalu beresiko Yah?
Berarti nanti pemasukan Ayah berkurang dong buat biaya kuliahku, kuliah Mas
Rijal dan juga biaya pesantren Nisa sama Adnan?” jelasku.
“Semua itu sudah ada yang
mengatur Nak, kamu tidak usah bingung. Allah itu Maha Kaya. Bagaimana dengan kamu? Mau tetap lanjutkan, nanti pagi uangnya
langsung ada insya Allah Husna. Kita besok siang langsung berangkat ya?” terang
Ayahku.
“Belum tahu Ayah, hati ini
sekarang tidak semantap dulu lagi Ayah. Aku takut jika aku masuk kuliah di
kedokteran Ayah nanti jatuh miskin karena membiayai kuliahku Yah, terus nanti
Nisa sama Adan tidak bisa lanjut kuliah. Kalau saja yang 500 juta itu masih ada
ditangan Ayah aku akan kuliah dengan tenang Ayah, tapi karena uangnya itu lebih
ada yang berhak dan membutuhkan ya sudahlah Ayah aku tidak apa-apa tidak masuk
kedokteran”. Aku menjawab dengan santai tapi sebenarnya di dalam hati nuraniku
belum bisa menerima. Ayahku tampak berfikir sejenak sambil mengambil napas
panjang.
“Aku jadi ingat pesan nenek
sebelum beliau meninggal Ayah. Bukannya nenek pernah berpesan kepada Ayah agar
menjadikan semua anak-anak ayah agar menjadi penghafal al-Quran. Mungkin ini
adalah pertanda dari Allah agar aku menjadi seorang penghafal al-Quran seperti
Ayah. Aku tadi malam sempat bermimpi bertemu dengan nenek, kemudian aku
bermimpi menghafal surat Ali Imran bersama nenek. Apakah itu pertanda bahwa
nenek mengharapkan aku melanjutkan hafalankku saja Ayah? Kerena baru satu
minggu yang lalu aku selesai menghafal surat Al-Baqarah bersama Ayah. Menurut
Ayah bagaimana?” kataku panjang lebar.
Ayahku tampak meneteskan air
mata. Kemudian beliau memelukku erat-erat sambil mencium keningku. Sambil
berkata “Kalau itu keinginanmu Nak, baiklah besok kita berangkat ke pesantren
di mana Ayah dahulu menghafal al-Quran. Tapi apakah kamu tidak menyesal?” tanya
ayah lagi kepadaku.
“Tidak Ayah, aku yakin tidak akan
menyesal. Tapi dengan satu syarat.” Pintaku kepada ayah.
“Apa itu Nak?” tanya Ayah
penasaran.
“Aku janji akan menghafal
al-Quran selam satu tahun ke depan. Tapi setelah itu aku akan meminta kepada
Ayah agar aku kuliah kedokteran lagi. Tapi tenang saja Ayah, aku akan mencari
beasiswa untuk kuliah kedokteran. Jadi Ayah tidak perlu lagi menjual jkebun
Ayah untuk biaya kuliahku. Ayah setuju?” kataku sambil melempar senyum kepada
ayah dengan kedipan mata.
“Iya sayang boleh, tapi dengan
satu syarat”. Ayahku tak mau kalah memberikan syarat kepadaku juga.
“Apa itu Ayah?” tanyaku
penasaran.
“Gampang kok, jangan pacaran dulu
sebelum menjadi dokter. Setuju?”
“Tenang saja Ayah, Anakmu yang
manis dan cantik ini janji tidak akan pacaran sebelum berhasil menghafal
al-Quran 30 juz dan menjadi seorang dokter.” Jawabku meyakinkan ayah.
“Baiklah Ayah percaya, sekarang
kamu kemas-kemas ya. Kita besok berangkat ke Jawa Timur untuk menengok ketiga
saudaramu yang ada di sana dan juga mengantarkan kamu ke pesantren.” Kata ayah
sebelum meninggalkan kamarku.
“Oke Ayah”. Jawabku sambil
mengacungkan jempol.
Sore itu merupakan sore yang
sedih sekaligus menyenangkan bagiku. Ternyata setelah aku mengambil keputusan
untuk nyantren lagi dan menghafal al-Quran hati ini terasa lebih tenang. Aku
rasa ini adalah keputusan yang tepat. Mengingat aku adalah anak kedua dan yang
hafalannya paling sedikit. Kakakku sudah menghafal 30 juz sejak kelas satu
madrasah aliyah. Adikku Nisa yang sekarang kelas dua madrasah Aliyah sudah
hafal 15 juz. Yang lebih keren lagi adalah Adnan dia sudah hafal 30 juz sejak
satu tahun lalu. Ketika duduk di bangku kelas dua tsanawiyah. Dan aku yang
paling sedikit, karena aku masih hafal surat al-Baqarah.
Tapi aku tidak menyalahkan
siapa-siapa. Tidak juga menyalahkan Allah. Karena aku yakin ini semua adalah
skenario dari Sang Maha Kuasa. Aku sebagai hambanya hanya menjadi seorang aktor
dalam sebuah cerita kehidupan di dunia ini. Mungkin melalui Paman Taufik yang
disekap para bedebah itu membawa berkah tersendiri terhadapku. Tapi aku juga
kasihan kepada bibi dan Wildan karena harus menghadapi semua ini. Dan semoga
saja mereka tetap diberi kesabaran oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini.
Karena Allah tidak akan menguji umatnya melampaui batas kemampuan umatnya.
Penulis: Inayah Ainun







0 comments:
Post a Comment