Monday, 2 March 2015

Ulah Bedebah Membawa Berkah

“Husna, tolong antar Ibu ke rumah Bibi ya”, kata Ibu kepadaku sambil memasukkan beberapa buah tangan ke dalam kantung plastik yang akan dibawa ke rumah bibi. Jarak rumahku dengan bibi tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit menggunakan sepeda motor melewati jalan berbatu. Maklumlah aku dan keluargaku tinggal di desa. Jalan yang tidak nyaman sama sekali ketika orang berkendara ini tidak pernah ada perubahan. Hanya semakin jelek saja setiap hari. Pemerintah  hanya mengobral janji palsu. Iming-iming jalan yang beraspal jika mereka terpilih menjadi wakil rakyat kini hanya menjadi isapan jempol belaka.
Tak sampai lima belas menit aku dan ibuku sampai di rumah bibiku. Rumah sederhana berwarna abu-abu dengan kramik warna putih dan plafon yang senada pula mempercantik rumah bibiku. Dia tinggal bersama suami dan seorang anaknya yang kira-kira berumur satu tahun. Nasib buruk kini sedang menimpa keluarga bibiku. Pamanku disekap oleh makelar judi. Nampaknya dua hektar sawah dan lima hektar perkebuanan karet belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Atau mungkin pamanku merasa tidak ada tempat untuk menyedekahkan uang yang didapatkannya selama ini. Sehingga ia gunakan untuk bermain judi.
Sudah ada tiga hari bibiku diancam oleh makelar itu. Dia mengancam jika bibiku tidak segera melunasi hutang pamanku yang besarnya mencapai 500 juta rupiah maka pamanku akan dibunuh.

“Sertifikat tanah kamu kemana Fit?” tanya ibuku kepada bibi.
“Aku tidak tahu Mbak, sepertinya sudah digadaikan oleh Mas Taufik”, jawab bibiku dengan nada lemas.
“Masya Allah, apa? Digadaikan? Dasar orang nggak tahu diri, dulu dia itu sebelum nikah sama kamu dia itu punya apa?” kata ibuku dengan nada meninggi. Bibiku hanya diam saja.
“Kamu sih dibilangin Taufik itu nggak baik buat kamu, tapi tetap saja kekeh, pakai acara mengancam segala kalau kamu nggak nikah sama dia kamu mau bunuh diri. Sekarang sudah terbuktikan?” ungkap ibuku marah.
“Maafin Fitri Mbak,” kata bibiku sambil menangis. Aku nggak tahu kalau bakal kayak gini.
“Terus sekarang mau kamu apa? Mau minta mbakmu ini buat nebus dia? Gitu?” tanya ibuku.
Bibiku hanya menganggukkan kepala. “Dapat uang darimana Fit, sudah biarkan saja dia dibunuh. Kalau tanah kamu itu masih utuh silahkan jual saja, tapi inikan semuanya sudah dijual sama dia”. Tambah ibuku.
Bibiku semakin terisak. Aku hanya menyaksikan dari balik lemari hias yang dipenuhi dengan foto, bunga hias dan guci-guci kaca.
“Tolong mbak, Wildan juga sekarang ada di sana”. Kata bibiku.
“Maksud kamu? Wildan di tempat para bedebah itu? Siapa yang membawa Wildan ke sana Fit?” tanya ibuku kaget.
“Tadi pagi waktu aku mau mandiin Wildan, tiba-tiba di tempat tidurnya sudah tidak ada. Dan saat itu juga ada yang ngirim video lewat WhatsApp, ini videonya Mbak”. Kata bibiku sambil menunjukkan video.
Video yang berdurasi dua menit itu menunjukkan bahwa Wildan keponakanku sedang dalam bahaya. Ia di dalam genggaman para bajingan itu. Yang sewaktu-waktu bisa saja membunuhnya. Suara tangisnya sangat menyayat hati. Siapa yang memberi dia ASI siapa yang mau mengganti popoknya, kekhawatiran menyelimuti bibi, ibu tak terkecuali diriku.
“Telfon Ayah!”. Perintah ibu kepadaku. Aku langsung mengambil handphone disakuku dan langsung menelfon ayah agar segera ke rumah bibi.
Tak selang beberapa lama, ayah datang. Ruang keluarga ini sangat sepi. Hanya suara isak tangis yang terdengar. Aku tidak berani ikut bicara sepatah katapun. Aku hanya terpaku dan terdiam membisu.
“Kenapa, ada apa?” tanya ayahku ketika memasuki ruang keluaraga di rumah bibiku. Tidak ada yang menjawab. Masih tetap sama hanya suara isak tangis yang terdengar. Ayah menghampiriku yang sedang duduk di ruang yang terpisah dengan ibu dan bibiku.
“Ada apa Husna, tolong ceritakan semua sama Ayah”, pinta ayahku.
“Paman disekap Ayah, sama makelar judi. Katanya paman punya hutang 500 juta dan harus segera dilunasi kalau tidak paman akan dibunuh. Bukan paman saja ayah yang disekap, tapi Wildan, tadi pagi dia diculik. Dan sekarang disekap juga sama mereka.” Ceritaku kepada ayah.
Ayah mengusap kepalanya. Berfikir sejenak. Lalu mengambil nafas panjang.
“Kapan waktu terakhir untuk membebaskan mereka Fit?”tanya ayahku kepada bibi.
“Pukul 00.00 Mas, jawab bibiku.
“Baiklah kamu siap-siap sekarang kita ke markas mereka”. Kata ayahku dengan nada yang sangat yakin sekali.
Fikiranku saat itu mulai tidak karuan. Jangan-jangan ayah mau memakai uang yang akan aku pakai untuk melanjutkan kuliah di kedokteran. Tidak. Pokoknya tidak boleh. Aku tidak mau ada seorangpun yang boleh menggagalkan rencana studiku.
“Aku ada uang 500 juta, sebenarnya itu jatah biaya kuliah Husna, tapi karena ada yang harus lebih diutamakan ya sudah kita pakai saja dulu uangnya Husna”, kata ayahku datar.
Aku yang sedang berdiri di depan pintu kamar di depan ruang tempat mereka berunding serasa mau pinsan. Kepala ini rasanya seperti ditindih oleh bebatuan gunung berton-ton. Air mata tiba-tiba menetes begitu cepat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika aku tidak mengiyakan pernyataan ayahku maka itu percuma saja. Karena meskipun aku menolaknya itu tidak akan membuat uang itu kembali lagi kepadaku. Ayahku mengambil koper, lalu mengajak bibiku keluar menaiki sebuah mobil ayahku. Mungkin sebelum pergi ke tempat para bedebah itu ayah akan mampir dahulu ke bank untuk mengambil uang.  Aku dan ibuku ditinggalkan begitu saja oleh mereka dirumah itu.
Aku dan ibuku memutuskan untuk pulang ke rumah. Menunggu hasil dari usaha ayah dan bibiku. Semoga mereka berhasil, gumamku dalam hati. Tapi sebenarnya hati ini masih tidak terima jika uang yang seharusnya aku gunakan untuk masuk kedokteran dirampas begitu saja dari genggamanku. Ibu hanya diam sejak masuk rumah. Lebih memilih mengurung diri di kamar. Aku juga demikian. Hanya bisa menangis karena membayangkan aku bakal gagal meraih impianku menjadi seorang dokter. Cita-citaku sejak madrasah tsanawiyah. Kini akan lenyap begitu saja sebab perbuatan adik ipar ibuku.
Uang yang kini dipakai untuk menebus paman dan keponakanku adalah hasil jerih payah ayahku sejak aku masih duduk di bangku tsanawiyah. Saat itu aku sudah di pesantren. Sejak aku mengungkapkan keinginanku untuk menjadi seorang dokter maka ayahku mulai menabung untuk mempersiapkan biayaku. Karena beliau sangat sadar bahwa menjadi seorang dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hingga selama enam tahun ayahku bisa mengumpulkan uang sebesar 500 juta rupiah. Uang itu disimpan atas namaku yaitu Husna Barokatul Aulia. Di simpan di salah satu bank negara di kotaku.
Dua jam berlalu. Ayahku datang. Diikuti oleh bibiku yang sedang menggendong Wildan. Wildan tampak pucat. Mungkin karena seharian menangis. Mukanya yang biasa ceria kelihatan cemberut. Aku menyambut kedatangan mereka. Tapi yang aku heran mereka datang tanpa Paman Taufik. Aku tidak berani bertanya. Aku memilih menyiapkan makan malam di dapur. Karena aku sadar itu urusan para orang tua dan aku tidak berhak ikut campur.
Di dapur aku mendengar percakapan mereka. Ternyata Paman Taufik sengaja tidak dibawa pulang oleh ayah. Paman ditinggalkan begitu saja. Ayahku berkata kepada bibiku bahwa suami macam Paman Taufik tidak pantas lagi menjadi suami dan ayah bagi Wildan. Bibiku menerima keputusan itu. Karena dia sangat sadar bahwa yang menyebabkan kehancuran keluarga kecilnya adalah suami tercintanya. Betapa tidak, masih diusia pernikahan yang sangat muda Paman Taufik sudah berhasil membuat harta benda peninggalan kakekku habis tanpa sisa. Rumah peninggalan kakekku satu-satunya pun kini telah tersita oleh rentenir yang uangnya digunakan oleh Paman Taufik untuk berjudi. Dan nampaknya mulai sore ini bibi dan Wildan akan meramaikan rumah kami.
Aku sudah diterima kuliah di jurusan kedokteran salah satu universitas negeri di indonesia. Pendaftaran ulang sudah dimulai sejak satu minggu yang lalu. Ada waktu kira-kira satu minggu lagi untuk daftar ulang. Rasanya tidak mungkin lagi ayahku mendapatkan uang sebesar 110 juta rupiah dalam waktu satu minggu. aku yang tadinya berniat menggoreng daging ayam yang sudah ibu bumbui tadi pagi dan disimpan di dalam kulkas menurungkan niatku. Aku memilih kembali ke dalam kamar dengan air mata yang menghiasi kedua pipiku. Sepertinya ayah merasakan kegalauanku. Ayah menghampiriku di dalam kamar. Dan mengelus dengan halus kepalaku. Sambil berkata “Maafkan Ayah ya Nak, Ayah belum bisa menepati janji ayah, rencananya kan besok kita berangkat ke Jakarta buat daftar ulang tapi ternyata Allah berkehendak lain. Tapi kamu tenang saja, Ayah sudah menghubungi teman Ayah dan berniat menjual kebun kita seharga 140 juta.”
“Kebun apa Ayah yang mau dijual?” tanyaku. Kebun karet kita Husna, jawab ayah.
Aku hanya diam, tidak bisa mengambil keputusan. Aku hanya terus menangis. Aku tidak bisa berfikir jernih.
“Kok sangat murah Ayah? Bukannya harga satu hektarnya bisa mencapai 100 juta?” tanyaku. “Sekarang harga karet sudah turun, dan kita butuh uang itu cepat Nak, hanya tiga hari. Jadi ya tidak mungkin Ayah patok harga yang tinggi. Nanti kamu keburu nggak bisa kuliah kan nak?” jawab Ayah.
“Apa nggak terlalu beresiko Yah? Berarti nanti pemasukan Ayah berkurang dong buat biaya kuliahku, kuliah Mas Rijal dan juga biaya pesantren Nisa sama Adnan?” jelasku.
“Semua itu sudah ada yang mengatur Nak, kamu tidak usah bingung. Allah itu Maha Kaya. Bagaimana dengan  kamu? Mau tetap lanjutkan, nanti pagi uangnya langsung ada insya Allah Husna. Kita besok siang langsung berangkat ya?” terang Ayahku.
“Belum tahu Ayah, hati ini sekarang tidak semantap dulu lagi Ayah. Aku takut jika aku masuk kuliah di kedokteran Ayah nanti jatuh miskin karena membiayai kuliahku Yah, terus nanti Nisa sama Adan tidak bisa lanjut kuliah. Kalau saja yang 500 juta itu masih ada ditangan Ayah aku akan kuliah dengan tenang Ayah, tapi karena uangnya itu lebih ada yang berhak dan membutuhkan ya sudahlah Ayah aku tidak apa-apa tidak masuk kedokteran”. Aku menjawab dengan santai tapi sebenarnya di dalam hati nuraniku belum bisa menerima. Ayahku tampak berfikir sejenak sambil mengambil napas panjang.
“Aku jadi ingat pesan nenek sebelum beliau meninggal Ayah. Bukannya nenek pernah berpesan kepada Ayah agar menjadikan semua anak-anak ayah agar menjadi penghafal al-Quran. Mungkin ini adalah pertanda dari Allah agar aku menjadi seorang penghafal al-Quran seperti Ayah. Aku tadi malam sempat bermimpi bertemu dengan nenek, kemudian aku bermimpi menghafal surat Ali Imran bersama nenek. Apakah itu pertanda bahwa nenek mengharapkan aku melanjutkan hafalankku saja Ayah? Kerena baru satu minggu yang lalu aku selesai menghafal surat Al-Baqarah bersama Ayah. Menurut Ayah bagaimana?” kataku panjang lebar.
Ayahku tampak meneteskan air mata. Kemudian beliau memelukku erat-erat sambil mencium keningku. Sambil berkata “Kalau itu keinginanmu Nak, baiklah besok kita berangkat ke pesantren di mana Ayah dahulu menghafal al-Quran. Tapi apakah kamu tidak menyesal?” tanya ayah lagi kepadaku.
“Tidak Ayah, aku yakin tidak akan menyesal. Tapi dengan satu syarat.” Pintaku kepada ayah.
“Apa itu Nak?” tanya Ayah penasaran.
“Aku janji akan menghafal al-Quran selam satu tahun ke depan. Tapi setelah itu aku akan meminta kepada Ayah agar aku kuliah kedokteran lagi. Tapi tenang saja Ayah, aku akan mencari beasiswa untuk kuliah kedokteran. Jadi Ayah tidak perlu lagi menjual jkebun Ayah untuk biaya kuliahku. Ayah setuju?” kataku sambil melempar senyum kepada ayah dengan kedipan mata.
“Iya sayang boleh, tapi dengan satu syarat”. Ayahku tak mau kalah memberikan syarat kepadaku juga.
“Apa itu Ayah?” tanyaku penasaran.
“Gampang kok, jangan pacaran dulu sebelum menjadi dokter. Setuju?”
“Tenang saja Ayah, Anakmu yang manis dan cantik ini janji tidak akan pacaran sebelum berhasil menghafal al-Quran 30 juz dan menjadi seorang dokter.” Jawabku meyakinkan ayah.
“Baiklah Ayah percaya, sekarang kamu kemas-kemas ya. Kita besok berangkat ke Jawa Timur untuk menengok ketiga saudaramu yang ada di sana dan juga mengantarkan kamu ke pesantren.” Kata ayah sebelum meninggalkan kamarku.
“Oke Ayah”. Jawabku sambil mengacungkan jempol.
Sore itu merupakan sore yang sedih sekaligus menyenangkan bagiku. Ternyata setelah aku mengambil keputusan untuk nyantren lagi dan menghafal al-Quran hati ini terasa lebih tenang. Aku rasa ini adalah keputusan yang tepat. Mengingat aku adalah anak kedua dan yang hafalannya paling sedikit. Kakakku sudah menghafal 30 juz sejak kelas satu madrasah aliyah. Adikku Nisa yang sekarang kelas dua madrasah Aliyah sudah hafal 15 juz. Yang lebih keren lagi adalah Adnan dia sudah hafal 30 juz sejak satu tahun lalu. Ketika duduk di bangku kelas dua tsanawiyah. Dan aku yang paling sedikit, karena aku masih hafal surat al-Baqarah.
Tapi aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Tidak juga menyalahkan Allah. Karena aku yakin ini semua adalah skenario dari Sang Maha Kuasa. Aku sebagai hambanya hanya menjadi seorang aktor dalam sebuah cerita kehidupan di dunia ini. Mungkin melalui Paman Taufik yang disekap para bedebah itu membawa berkah tersendiri terhadapku. Tapi aku juga kasihan kepada bibi dan Wildan karena harus menghadapi semua ini. Dan semoga saja mereka tetap diberi kesabaran oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini. Karena Allah tidak akan menguji umatnya melampaui batas kemampuan umatnya.


Penulis: Inayah Ainun

0 comments:

Post a Comment