Thursday, 12 February 2015

Titip Kangen untuk Ibu

Terbesit bisikan ‘ibu ibu ibu...’ dalam jiwa ini, terbayang ibu yang di seberang sana. Tak dirasa air mata ini menetes perlahan tanpa tersadar. - Titip Kangan untuk Ibu -
Apapun yang ku lakukan, bahkan semua keinginan yang ibu pinta dariku, dan aku berhasil memenuhinya, pasti itu semua sangat tidak sebanding dengan apa yang telah kau beri. Sangat tidak bisa menandingi atas apa yang telah engkau berikan padaku. Tak akan pernah bisa mengganti segala bentuk perjuanganmu.
Saat masih didalam kandungan selama berbulan-bulan, awal dan untuk pertama kalinya aku sudah mulai merepotkan Ibu. Kemanapun ibu saat itu, aku membuat gerakmu terhambat. Aku membuatmu tak bernafsu untuk memakan makan-makanan yang engkau sukai, itu karena diriku, ibu berusaha untuk berhenti memakan apa yang menjadi kesukaanmu.
Saat benar-benar aku terlahir dengan tubuh yang masih sangat mungil, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sepanjang hari dan seringkali juga malam hari. Disaat Ibu sudah mulai bisa tertidur, akhirnya usahamu untuk memejamkan mata, mendadak batal.
Suara tangisanku menjadi ulah semuanya dan memecah kesunyian malam pada waktu itu. Aku hanya bisa menangis. Lagi-lagi, Ibu rela menungguku sampai aku benar-benar nyaman dan diam tanpa bersuara lagi, pertanda Ibu sudah menjawab segala pintaku dengan suara tangisan. Berkat komunikasi yang Tuhan ajarkan padamu, engkau mengerti bahasa tangisanku. Engkau tahu semua makna tangisanku.
Semakin hari, badanku mulai tumbuh besar. Aku bisa merangkak, berjalan dan akhirnya aku bisa berlari-lari, bermain petak umpet. Tidak jarang aku akhirnya main petak umpet denganmu.
Sampai usiaku kini sudah tidak anak-anak lagi. Baru saja masuk dan menjadi pendatang baru di pintu dewasa. Aku besar dan bisa melakukan ini-itu. Aku hidup jauh darimu. Timbullah rasa mengacuhkan dirimu. Aku mulai tidak mendengarkan segala pintamu. Aku seringkali terlihat cuek, tanpa mengindahkan apa yang kau inginkan dariku.
Tapi itu semua hanya perasaan yang tampak dari luar saja. Sebenarnya aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Dalam waktu dan jarak yang terpisah aku menangis dan sedih jika mengingat, lagi apa ibu sekarang. Makan apa engkau sekarang? Sudah lama, aku tak pernah lagi satu rumah dengan ibu. Hampir satu dekade lebih, aku hanya sesekali datang dan menginap satu atap denganmu. Karena aku harus menemukan jalan kemandirianku agar tak membebanimu terus-menerus, dan mampu melihat engkau tersenyum.
Segala bentuk mondar-mandirku selama ini, datang dan pergi dari suatu tempat, menunggu dan menanti, melakukan sesuatu, hampir semuanya caraku, mencari serta menemukan kepingan demi kepingan puzzledimana ujungnya akan aku persembahkan untukmu wahai Ibu.
Aku belum seperti kebanyakan orang, yang sudah membelikan apapun yang ibu inginkan. Aku juga belum bisa mengiyakan semua perintah yang terlontar dari mulut ibu. Aku ingin melihat ibu selalu tersenyum melihat anak yang sudah dibesarkan ini bisa berhasil. Bisa melakukan apa yang sesuai dengan cita-citaku
Kehidupan memang menyibukkan. Kadang aku tak pernah punya waktu untuk memperhatikan dirimu. Hanya untuk sekedar menanyakan kabarmu, seringkali aku lupa.
Pagi, siang, sore, dan malam hampir semuanya urusan pribadi. Urusan apapun, sehingga aku benar-benar melupakanmu. Padahal, ada engkau orang yang paling aku cintai duduk sepi di kejauhan sana, selalu mengingat diriku. Aku jauh berbeda denganmu. Saat aku belum bisa apa-apa dulu, engkau selalu ada buatku.
Aku tak ingin menjadi anak seperti dalam satu kisah. Dimana saat itu, seorang anak dan ibunya, sedang duduk di sebuah bangku yang ada di sebuah taman, lalu sang ibu bertanya pada anaknya, tentang apa yang dilihatnya di atas danau tersebut. Lalu sang anak menjawabnya dengan jawaban yang benar. Kemudian,sang ibu kembali bertanya pada anaknya tentang hal yang sama.
Anaknya pun kembali menjawab dengan hal yang sama. Tak puas, ibunya kembali bertanya dengan hal yang sama, itu apa? Lalu dengan nada tinggi sang anak menjawabnya. Dan kembali sang ibu menjawab, tidakkah engkau ingat, dulu waktu engkau masih belum bisa apa-apa, engkau banyak bertanya dan aku menjawab semuanya, tanpa ada rasa kesal dalam diriku, ujar sang ibu.
Aku tak ingin seperti itu memperlakukan dirimu. Sesibuk apapun diriku, aku bertekad tak ingin membuat hatimu terluka. Aku tak ingin melupakan dirimu, apalagi karena urusan pekerjaanku, atau apapun itu. Seperti kebanyakan anak yang merasa dirinya tak punya waktu untu merawat ibunya. Ada yang sampai tega mengantarkan ibunya ke panti jompo. Aku tak ingin seperti itu. Seandainya aku jadi orang dikemudian hari, aku bertekad tidak melupakannmu. Sehebat apapun diriku kelak, aku tetap bukanlah siapa-siapa di hadapanmu. Aku tetaplah anak yang cengeng.
Ibu. Aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu. Aku selalu terbayang, waktu terus berjalan dan berputar mengejar matahari terbenam dan akan berhenti pada masa tugasnya habis. Begitupun dengan kondisimu, wahai ibu.
Siang malam dengan parasmu cantikmu berubah. Semakin hari semakin menampakan garis-garismembelah permukaan wajahmu. Rambutmu yang sudah tidak satu warna lagi. Warna kebanyakan orang Indonesia. Tidak lagi semuanya hitam. Namun sedikit-sedikit berganti menjadi putih. Suaramu yang sedikit kehilangan volumenya, dan matamu yang semakin lama,semakin sayu.
Aku masih ingat saat aku masih kecil, banyak hal yang membuat ibu harus mengeluarkan air mata atas kenakalanku sebagaimana anak-anak superaktif lainnya. Suaramu yang memanggil saat aku sedang asyik bermain dengan teman-temanku. Seringkali tak ku sadari bahwa aku harus kembali pulang. Aku mengacuhkanmu. Sampai-sampai kesabaranmu tak tertahankan, engkau datang ditempatku bermain, lalu memegang tanganku untuk pulang ke rumah, hanya untuk sekedar aku makan siang dulu.Atau saat engkau membangunkan diriku yang terlelap pulas di waktu pagi, aku seringkali menggerutu.
Itu dulu. Sekarang aku sudah jarang satu atap lagi denganmu. Aku rindu. Aku kangen masa-masa itu. Aku ingin masa-masa itu berulang. Mengisi hari-harinya dengan penuh kepatuhan dan berbuat apa yang ibu inginkan dariku. Mendengarkan dan melakukannya dengan penuh semangat sebagaimana aku bersemangat dalam bermain bersama teman-temanku.
Berbuat banyak dan yang dapat menyenangkan hati ibu. Aku ingin buat engkau bangga melahirkanku dari rahimmu.
Andai suatu saat nanti aku memang ditakdirkan menjadi orang yang berhasil, atau belum berhasil sepenuhnya, aku akan membalas semuanya dengan apa yang aku bisa. Aku tak ingin ibu merasa kesepian karena berjauhan dengan anak-anaknya. Aku ingin menemani masa-masa senjamu.
Meskipun selama ini, sepengetahuanku, ibu tak pernah meminta apapun dari diriku. Jarang sekali melihat engkau mengeluh ini-itu. Hampir dipastikan ibu selalu berhasil memendam sendiri segala kepiluanmu. Sampai-sampai aku tak pernah melihatmu bersedih. Kalaupun engkau sedang ada masalah, jalan satu-satunya hanya diam, dan duduk lama di atas sejadah. Melakukan apa yang bisa dilakukan. Membaca dan bermunajat pada Tuhan.
Ibu, tanpa aku meminta doa darimu, pasti engkau sudah lama, diam-diam mendoakan diriku agar selalu mendapatkan semua apa yang aku inginkan. Tanpa aku ingatkan setiap harinya, engkau sudah mendoakanku. Tapi ibu, sebagai anak yang tahu diri, aku harus meminta doa darimu, agar jalan yang aku tempuh dapat berhasil.
Bagiku, ibu adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Sepertinya ibu tak berharap apapun dariku tentang materi. Hanya satu yang engkau harapkan. Setiap kali aku pergi melanglangbuana kemanapun diriku berada, hanya satu pinta spesifik dari mulutmu, yaitu Jangan melupakan Tuhan. Ya, hanya itu ucapan yang selalu diucapkannya berulang-ulang. Hampir tak pernah bosan ia mengingatkanku.
Semoga ibuku selalu sehat di seberang sana. Tetap semangat menjalani hari-hari. Dan yang terpenting mendapatkan lindungan dari yang maha kuasa. Amin

Penulis: Rico Irawan

0 comments:

Post a Comment