
Monday, 12 October 2015
Ikanuha Jakarta Berulang Tahun Yang Ke Tiga

Ikanuha didirikan atas dasar
semangat memlihara nilai-nilai pesantren yang terbaik agar tetap bersemayan
dalam diri para alumni yang sedang ber-ta’allum di Jakarta dan
sekitarnya, untuk membentengi ideologi, menerapkan nilai sosial dan
keberagaman, serta mempererat silaturahmi.
Bertepatan tanggal 5 oktober 2015 kemarin, Ikanuha Jakarta sudah
menginjak usia yang ke tiga tahun. Ibarat seorang anak sudah bisa apakah anak
seusia ini?. Jika dipikir-pikir sudah bisa berlari kesana-kemari, namun bukan
itu yang menjadi tolak ukur Ikanuha Jkt. Akan tetapi sejauh mana Ikanuha
mendapatkan tempat di hati para anggotanya, apa yang telah kita perbuat untuk
Ikanuha jakarta, dan bagaimana peran kita kepadanya.
Untuk memperingati hari ulang tahun Ikanuha Jakarta, dilakukan
acara kecil-kecilan yang bertempat di Taman KB Ragunan Jakrta Selatan. Acara berlangsung
pada hari minggu, 11 Oktober 2015 dimulai pukul 09.00 sampai pukul 15.00 WIB. Kegiatan
diisi dengan kegiatan potong kue, games, dan pemanjatan doa. Menurut ketua Ikanuha
Jakarta, Mas Niam Masykuri, beliau berharap semoga Ikanuha Jakarta semakin erat
silaturahminya, walupun minoritas diantara ikanuha regional lain, ikanuha
jakarta tidak kalah solidnya. Disisi lain, Mas Sofyan, SE., senior yang baru
bergabung ini mengaku kegiatan seperti ini hendaklah terus ditelateni, kecil-kecilan
namun menarik. “Tambah jaya selalu dan berkah buat kita semua”, imbuhnya.
Acara yang berlangsung sekitar lebih dari 5 jam ini mendapat
apresiasi dari berbagai pihak, mulai dari pengurus hingga ikanuha regional lain.
Hadir pula dalam acara tersebut tamu dari Sukaraja yang sengaja mampir di
markas kami, yakni Mas Ali Makmun, S.Pd., beliau juga berpesan agar Ikanuha
jakrta tetap solid dan jaya. “Selamat ultah Ikanuha Jakarta yang ke tiga, semoga
tambah solid dan jaya selalu”, uajrnya. Harapan terbesar kami adalah semoga
Ikanuha jakarta menjadi simbol alumni yang baik.
coming soon...!. Lihat dan saksikan testimoni ulang tahun
Ikanuha Jakarta yang ke tiga.
Sunday, 17 May 2015
Di Balik Diamnya, Tersimpan Segudang Prestasi
Bukan Niam jika tanpa prestasi kaligrafi
setiap tahunnya. Kali ini Mas Niam begitu sapaannya, sedang mengikuti lomba
olimpiade Kaligrafi Universitas, ia mewakili UIN Jakarta untuk bertanding di
Tingkat Nasional di Palu Sulawesi Selatan, sekelas dengan MTQ namun ini tingkat
universtas.
Niam mengharap doa dan dukungan
dari segenap teman-teman Ikanuha Jakarta. “Assalamualaikum sedulur, insya Allah
mengke dalu saya bade brangkat, mohon doa nya semoga selamat sampai
tujuan tur apa yg jadi hajat bisa hasil, pendoanipun. Dalam hitungan
menit mau berangkat, pandonganipun, mugi-mugi wonten meriko di paringono hasil”,
berikut kicaunya di grup whatsapp Ikanuha Jakarta. Serentah mengamini
semua anggota-anggotanya.
Bukan kali ini saja, ketua Ikanuha
Jakarta ini mengikuti ajang tingkat Nasional. Setelah lulus dari MA Nurul Huda
Sukaraja OKU Timur tahun 2010, ia mendapat beasiswa di Pesantren Kaligrafi Lemka
di Suka Bumi. Sejak itulah order banjiran mulai dari meembuat kaligrafi,
di masjid-masjid, sekolah, hingga di kantor pemerintahan terutama di Jakarta
dan sekitarnya, sembari kuliah di UIN Jakarta.
Dimulai tahun 2011, Niam mengikuti lomba
di berbagai daerah mulai dari Jakarta, Banten, hingga Sumatra. Dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Hal ini tidak hanya seremonial saja, namun
pasti membawa juara. Kaligrafi sudah menjadi darah daging nya. Dimana ada khot
disitu ada Niam, begitu kira-kira mengungkapakn saking cintanya pada kaligrafi.
“Kaligrafi itu hobi saya, jadi
pekerjaan yang paling asik, ya hobi yang di bayar”, begitu candanya. Beliau menambahkan
bahwa kaligrafi itu membuat hati semakin tenang, nyaman, dan serat semakin
dekat pada yang Maha 'Alim. Niam terinspirasi dari guru kaligrafi sejak masih
di Aliyah, seperti KH. Baidlowi, Ust. Suyaskoni, Ust. H. Nurcholis, dan Ust.
Martnus. Hingga yang saat ini ia kagumi KH. Syrojuddin, pimpinan Lemka
Sukabumi.
“Nomor 1 itu Kaligrafi, nomor 2 kerja,
dan nomor 3 itu baru kuliyah,” imbuhnya diiringi senyuman dan galak tawa.
Di perlombaan kali ini semoga dapat meraih prestasi yang
maksimal, dapat membawa nama baik UIN Jakarta, Ikanuha, dan semuanya.
Saturday, 16 May 2015
Scabies (gudik), primadona pesantren
Melanjutkan tulisan tentang gudik di buletin ad Diwan, perlu pembahasan dari segala aspek. Berikut pembahasannya dari temana saya Iqbal santri gudiken.
Penyakit scabies, yang dalam bahasa awam disebut penyakit kudis (dalam bahasa Jawa disebut gudik), merupakan salah satu ”komoditas” yang menarik untuk ditelaah di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Setiap santri yang mengenyam pendidikan di suatu pesantren, kemudian dia mampu “bertahan” cukup lama di sana, sedikit banyak akan bersinggungan dengan penyakit kulit, terutama scabies ini.
Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang menginfeksi permukaan kulit seseorang, kemudian membuat lubang yang bersifat mikroskopis dan menimbulkan rasa gatal sampai timbul lesi atau luka. Penyakit ini termasuk penyakit yang jamak terjadi di Indonesia, terutama tempat yang ditengarai memiliki kualitas sanitasi dan lingkungan yang rendah. Kutu ini lebih sering menyerang secara aktif di malam hari, sehingga ketika malam menjelang tentu akan mengganggu tidur seorang penderita. Penularan penyakit ini tak jauh berbeda dengan macam penyakit kulit lainnya, yakni lewat penggunaan pakaian dan handuk bersama, kontak kulit dengan penderita dan bak mandi yang dimanfaatkan secara masal.
Sebagaimana mitos-mitos yang muncul di kalangan pesantren, terutama pesantren besar, bahwa kudis merupakan “stempel resmi” seorang santri, bahwa ia telah siap untuk menempuh tingkatan yang lebih tinggi dalam pembelajaran holistik yang ada di pesantren. Banyak kalangan kiai menyebutkan, “Kalau kamu sudah gatal-gatal di pesantren, tandanya kamu sudah betah dan ilmu akan lebih mudah masuk,”. Walaupun argumen ini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman penulis, dhawuhpara kiai ini banyak benarnya. Beliau menganggap bahwa penyakit kudis yang diderita santri adalah tanda awal turunnya berkah.
Berkah, Santri, dan Kudis
Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.
Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini. Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?
Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi.
Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.
Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai.
Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu?
Sebagai seorang santri penulis merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.
Diadaptasi dari Islam Nusantara
Friday, 15 May 2015
Isra Mi'raj: Misi Reformasi Peradaban Umat
Isra Mi'raj adalah
salah satu bukti Kerasulan Muhammada SAW. Bukti otentik ini sebagai landasan
bahwa Agama tidak hanya dipandang sebagi suatu yang eksperimen, namun suatu
yang realita terjadi. Warga sarungan tentu tidak akan aneh ketika membaca
sejarah Isra Mi’raj, karena di Pesantren diajarkan khusus kitab isra wal miraj
Nabi Muhmmad SAW dalam kitab Qishratul Mi’raj. Cerita singkatnya bisa dibaca di tweet @ikanuhajkt. Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab 621 M, 3 tahun sebelum Hijrah, tahun 11
kenabian. Artinya 11 tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.
Dalam Al Quran dijelaskan
secara gamblang dalam surat Al-Isra ayat 1.
Artinya: "Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di
sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui".
(Q.S. Al-Isra: 1).
Isra Mi’raj juga memiliki makna penting dalam perjalanan umat Islam. Makna
penting itu jika diurai tentu akan memanjang. Isra Mi’raj, bisa dimaknai dari
sudut pergolakan dakwah Nabi, kebenaran doktrin Islam, perjumpaan dengan para
Nabi dan komunikasi pad Tuhan, dan lain sebagainya. Tapi yang jelas,
kisah-kisah serupa itu mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan
narasi besar yang memperkokoh dinamika umat untuk menyaksikan kehadiran Allah
SWT.
Nabi melihat tentang kebesaran-kebesaran Allah, juga diperlihatkannya surga
beserta panoramanya dan peristiwa-peristiwa yang lain yang menakjubkan.
Berbagai fenomena yang ditemui oleh Nabi saat melakukan wisata religius begitu
banyak yang amat mengerikan, seperti bibir dan lidah yang terus tergunting yang
mencerminkan hukuman bagi orang-orang yang selalu menyebarkan fitnah. Wajah dan
dada yang terus tercakar sebagai gambaran bagi mereka yang suka menindas.
Orang-orang terus berenang di kolam nanah dan darah lalu terus dilempari batu,
sebagai gambaran siksaan bagi orang-orang yang korupsi dan makan harta riba.
Semua amatlah penting untuk dijadikan sebagai referensi renungan di tengah
gelombang kehidupan yang semakin runyam dan begitu dahsyat.
Di samping itu juga agar manusia tidak melakukan tindakan-tindakan yang sewenang-wenang.
Juga agar manusia tidak melangsungkan hidupnya di dunia yang hanya mengikuti
zaman yang carut-marut, akan tetapi manusia diharapkan hidup dan beraktivitas
dengan bahasa langit seperti orang-orang suci, para Nabi, sahabat dan ulama
bahkan menyatu dengan Tuhan. Dengan hidup yang dihiasi dengan kesempurnaan
bahasa langit dan bumi akan mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya.
Di samping itu Isra juga merupakan simbol perjalanan hidup Manusia, isra
adalah perjalanan mendatar (Horizontal) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di
Palestina. Hal ini mengisyaratkan proses pertumbuhan yang bersifat kuantitatif.
Mi'raj adalah perjalanan naik (Vertikal) dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha
mengisyaratkan adanya proses kualitatif. Manusia makhluk Allah yang paling
sempurna, memahami hidup ini untuk menjalani proses pertumbuhan dan
perkembangan.
Proses perkembangan lebih menekankan pada mental yang bersifat nilai bukan
materi. Proses ini lebih berbicara tentang kualitas hidup manusia
misalnya, bodoh menjadi pandai, dari hina menjadi mulia, dari terlaknat menjadi
terhormat, dari maksiat menjadi taat. Kemudian proses yang bersifat
kuantitatif, dari mulai kecil kemudian besar, sedikit menjadi banyak.
Dalam proses perjalanan Mi'raj kita diingatkan pada tiga titik, atau tiga
tempat yang paling penting yaitu, Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Sidratul
Muntaha. Hal ini mengingatkan juga pada tiga peristiwa penting dalam perjalanan
hidup manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Dengan kata lain,
bahwa hidup bagi manusia adalah proses dinamis, proses ke masa depan, maka
perjuangan Isra Mi'raj adalah isyarat bagaimana manusia menatap masa depan dan
mengabdikan diri pada Allah.
Dalam peristiwa ini yang termuat dalam hikmah-hikmah Isra Mi’raj yang dapat
dipetik dari momen-momen simbolik peristiwa itu adalah:
- Kita menemukan, bahwa sejarah mencatat
prosesi pembedahan dada Nabi sewaktu Isra Mi’raj. Dari peristiwa itu, kita
menangkap simbol pelapangan dada, penyucian hati, penajaman nurani. Lebih
spesifik lagi, pembedahan itu beresensi persiapan untuk bermunajat dengan
yang Maha Tinggi dan Maha Suci.
- Kelapangan dada, kerendahan hati dan
ketajaman nurani sebagaimana yang dipraktekkan Nabi, terlihat sangat penting
dalam misi-misi profetik dan sosial demi mereformasi tatanan yang tidak
ideal. Fungsinya, sebagaimana yang ditegaskan Al-Qur'an, dapat meringankan
beban (psikis), mengangkat citra, dan menumbuhkan optimisme, bahwa di
balik kesengsaraan ada jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 1-6).
- Isra Mi’raj juga mengandaikan adanya
dorongan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Perjumpaan dan dialog
antara Nabi Muhammad dengan Nabi-Nabi seniornya, soal-jawabnya kepada
Jibril, menandakan bahwa reformasi menuntut kerendahan hati untuk belajar
dari banyak kisah gagal dan sukses orang lain.
- Sebatas yang kita amati, spiritualitas
atau perasaan bahwa adanya kontrol yang Maha Tahu atas aktivitas kita,
menjadi penting tatkala sistim-sistim yang kita reformasi tidak berjalan
dengan ruh yang kita idealkan. Wisata spiritual Nabi dalam Isra Mi’raj,
menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting untuk menuntaskan misi dan
visi reformasi.
Sebuah falsafah
moralitas mengingatkan kita, bahwa “Innama al-umam al-akhlaq ma baqiyat,
fain hum dzahabat akhlaquhum dzahaba” (suatu komunitas akan kekal bersama
moralitas; bila moralitasnya hancur, raiblah mereka bersamanya).
Wallahu a`lam bi as-showab
Wednesday, 6 May 2015
Dokter: Tenaga kesehatan sekaligus ‘wong pinter’
Bismillah ngawiti ngaji.
Di era modernitas seperti ini,
hendaklah budaya tradisional sudah mulai hilang, namun sebagai warga berprinsip
mempertahankan yang jadul yang baik dan mengambil yang modern yang lebih baik.
Hal seperti pasti kelak kita temui saat kita turun di masyarakat sebagai dokter
keluarga (family doctor) sebagai pelayanan primer. Fenomena-fenomena
awam seperti, pasien datang dengan kesurupan, kerusukan leuluhr, terkena santet,
penyalahgunaan jimat dan lain-lain, tentu akan kita temui di masyarakat
terutama di pedesaan. Oleh karena itu, ngaji Thib Nabawi mungkin bisa
membantu menyelesaikan masalah di masyarakat.
Saya menocoba mencantumlan beberapa bab besar di
Kitab Ath Thib Nabawi (Kedokteran ala Nabi), Karangan Syekh Muhammad bin
Abi Bakr bin Ayyub bin Sa'd al-Zar'i bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi (Ibn Qayyim Al-Jauziyah). Di era ini, saya mencoba membawa
nya dengan istilah-istilah kedokteran. Di
dalam kitab ini saya mencakup judul tentang perawatan penyakit fisik (desease
Care and teatment), hijamah (bekam), sifat dan perbuatan nabi (sebagai
edukasi dan pola hidup sehat), pengobatan penyakit hati (Psikis – Agama ) dan
pengobatan penyakit akibat gangguan sihir dan jin (sebagai Muallij).
Maka dokter haruslah sejalan dengan kemampuan mengobati
penyakit fisik (Dzhohir), sedangkan istilah Muallij haruslah
sejalan dengan kemampuan kita merawat sihir dan gangguan jin (ghoib).
1. Seorang dokter tidak semestinya
seorang Muallij tetapi dokter bisa juga menyembuhkan sihir. Dokter memiliki
resep tips bahan kedokteran berdasarkan bukti dan penelitian (eviden base
medicine) dan menggabungkan zikir dan doa (kekuatan iman).
2. Wong pinter tidak semestinya seorang dokter
dan ia mengkhususkan dirinya dengan perawat sihir dan gangguan jin. Wong pinter
hanya menggunakan ayat quran dan doa untuk kesembuhan.
3. Jika seorang itu bisa mengobati
keduanya tadi, maka ia harus menyatakan dirinya dengan satu nama julukan yang
merujuk kepada kemampuan dan keahliannya. Jika ia lebih pakar hal sihir, maka
ia harus menggunakan gelar wong pinter sedangkan jika ia pakar dengan
pengobatan penyakit fisik, ia harus menyatakan dirinya sebagai dokter. Ini
sesuai dengan hadist rasulullah yang hanya menggunakan layanan thobib yang ahli
saja ketika merawat diri dan sahabat akibat cedera perang maupun penyakit.
Pendahuluan
Pembagian Penyakit
Penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit hati dan Penyakit
jasmani
1. penyakit hati (Dijelaskan lebih
rinci dalam Kitab Ad-Daa wa Ad-Dawaa ‘oleh Ibnu Qayyim);
a. Penyakit syubhat disertai
was-was.
Dijelaskan dalam surat An-Nur
ayat: 50:
أفي قلوبهم مرض أم ارتابوا أم
يخافون أن يحيف الله عليهم ورسوله بل أولئك هم الظالمون
“Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit,
atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan
rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang
yang lalim.”
b. Penyakit cinta disertai kesesatan
dijelaskan dalam firman Allah
dalam surat al-Baqarah ayat 10:
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا
ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
2. Penyakit jasmani
Allah berfirman dalam surah
An-Nur ayat 61:
ليس على الأعمى حرج ولا على
الأعرج حرج
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak
(pula) bagi orang sakit .”
Allah menyebut tentang penyakit
jasmani dalam ibadah haji, puasa, wudhu dan lain-lain lagi. Karena itu Allah
dan rasulNya telah menetapkan perlunya:
· Menjaga kesehatan
· Menjaga tubuh dari unsur bahaya (racun, basi, tajam, bisa,
binatang buas, dll)
· Mengeluarkan zat bahaya dalam tubuh (darah, kencing, kentut,
muntah, bersih, lapar, mengantuk, haus, dll).
· Berpuasa
Tatalaksan Penyakit Jasmani (fungsi
tubuh) – promotive, preventive, kurative, dan rehabilitative
1. Peranan empat unsur di dalam
tubuh manusia yaitu tanah, api, air dan angin. Kompilasinya adalah panas,
dingin, lembab dan kering. Kemudian di ikuti panas dan lembap, panas dan
kering, dingin dan lembab, dingin dan kering. Maka medis harus memiliki kaitan
antaranya.
2. Cara merawatnya;
· Seperti yang diilhamkan (sunnatullah dan fitrah) seperti
bila lapar, maka harus makan, bila haus harus minum, bila letih harus
istirahat, bila mengantuk harus tidur.
· Membutuhkan analisa dan diagnosa seperti tubuh tak stabil, suhu
badan naik, sakit di bagian tubuh dan sebagainya. Oleh karena itu dibagi lagi
menjadi dua jenis:
o Penyakit fisik, yaitu penyakit
alami seperti flu, demam, kanker, jantung dan lain-lain
o Penyakit konduktif (menular),
yaitu penyakit infeksi atau penyakit wabah.
Cara
Rasulullah Mengobati Diri Sendiri
· Beliau tidak menggunakan obat kimia seperti yang dipelopori
bangsa romawi dan yunani yang mana medis itu juga telah diaplikasikan oleh Ibnu
Sina dalam bukunya
· Bahaya obat kimia adalah
ketagihan atau sebagai komplikasi kerusakan badan. Jika sembuh terlalu cepat,
berarti dosa kifarah hanya dapat terhapus sedikit atau belum sempat terhapus.
Ini mengurangi dekatnya diri kita pada Allah.
· Rasulullah hanya memilih makanan khasiat tinggi di Tanah Hijaz
berdasarkan wahyu dan ucapan Jibril terus kepadanya. Orang bukan islam
menafsirkan itu ilmu kedokteran fitrah, sebagaimana hewan mengobati dirinya
misalnya kucing akan menjilat minyak pelita (zaitun) ketika ia terkena racun.
· Pengobatan Rasulullah bisa dianggap rekonstruksi sel tubuh
dengan bersandar dan bertawakal kepada Allah melalui zikir, doa, membaca
al-quran, shalat, berpuasa, bertobat, berbuat baik sesama manusia, membantu
sesama manusia dan sedekah. Ternyata ia juga memberi ‘penyembuhan’ terhadap
rohani lalu menguatkan pula badan sipasien tadi.
Setiap Penyakit Ada Obatnya
Ada banyak hadist tentang
antaranya:
“Berobatlah wahai hamba-hamba
Allah SWT, sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan
obat baginya … diketahui oleh yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh yang
tidak mengetahuinya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)
“Setiap penyakit ada obatnya,
apabila obat tepat mengenai penyakit, maka akan ada kesembuhan dengan izin
Allah SWT.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah SWT telah
menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kamu, tetapi jangan
berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Daud)
“Dari Abu Hurairah ra berkata,
Rasullah SAW telah bersabda: ‘Pada al-Habbah al-Sawda’ ada obat untuk segala
penyakit, kecuali as-sam.” (Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim,
Bukhari dan Ibnu Majah. Dan hadis ini tercantum dalam himpunan hadist-hadist
sahih nomor 857.)
Juga beberapa firman Allah
termasuk:
ياأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في
الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)”
فاستجبنا له فكشفنا ما به من ضر وءاتيناه أهله ومثلهم معهم رحمة من
عندنا وذكرى للعابدين
“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit
yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi
peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 84)”
وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا
خسارا
“Dan Kami turunkan dari Al Qur `an suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur` an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang lalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)”
Wallahu alam bissawab.
Referensi kitab Thibbun Nabawi (Ibnu Qayyim al-Jauziah),
Tuesday, 5 May 2015
AWAN DI UJUNG MASA
Andai kudapat menggenggam pasir tanpa harus menjatuhkannya. Maka itulah yang ingin ku lakukan pada semua orang yang pernah sekedar menolehkan pandangannya padaku..
Pernahkah
kau merasa jiwamu melayang?? Meliuk-liuk di temani hembusan angin dunia,,
seraya di iringi deru bumi yang menjadi instrument.
Maka saat itu kau merasa jiwamu terbebas, berbaur bersama
alunan melayu dunia, tak pernah merasa sedih, tak juga merasa kecewa, tanpa
juga takut menjadi tua.
Walau
sebuah akhir hanyalah awal dari kisah yang baru, namun biarkanlah kebersamaan
kita menjadi satu dari ribuan ukiran kenangan di hatimu, bukan menjadi sebuah
beban, melainkan menjadi sebuah kekuatan bagimu demi meraih hari esok..
Terdengarkah
olehmu, bisikan pasir di padang gurun??, yang begitu bahagia ketika pengelana
menapaki dan hanya melewati mereka..!!
Maka
bilamana tangan tuhan masih mengizinkanku bersimpuh di hadapannya. Maka ku ingin tuhan menuntunku agar dapat menjadi seperti
mereka yang menjadikan kebersamaan yang hanya sesaat menjadi hal yang sangat
berharga..
Waktu
kini berjalan begitu cepat, tanpa menghiraukan hati anak-anak manusia yang
pergi mengiringinya dengan rasa sedih dan perih, dengan rasa cinta yang mulai
terkikis, dengan rasa rindu yang mulai habis, dengan kesetiaan yang menipis,
namun ini adalah jalan yang harus mereka tempuh, yakni sebuah kenyataan yang
lebih agung daripada sebuah ilusi atau khayalan seperti yang mereka inginkan.
Hingga
nafasku mulai sesak, hingga pandanganku mulai buram, saat kasih sayang hanya
menjadi bualan, dan kata sahabat hanya menjadi omong kosong aku tetap dan akan
selalu mengingatmu, hingga ahirnya tangan-tangan kosong menjemput jiwa ini yang
penuh dengan dosa.
Oleh : Muhammad
Saiful Anwar












